Jangan Cinta Terlalu Dini

Beberapa malam lalu saya nonton ILC di TV One yang sedang mengangkat tema tentang KDTP (Kanjeng Dimas Taat Pribadi) dengan segala fenomenanya, terutama kemampuannya yang katanya bisa menggandakan uang.
Sesi ILC kemarin mendatangkan beberapa narasumber dari pihak yang percaya dan membela KDTP maupun pihak sebaliknya. Kalau saya sendiri sih sudah firm termasuk orang yang melihat fenomena KDTP ini sebagai tindak penipuan, kalaupun memang ada kemampuan ghaib yang dimiliki, hal itu bukan termasuk karamah, namun sihir yang datangnya dari jin, wallahua’lam.

Saya sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan KDTP, tapi tertarik dengan pilihan sikap Ibu Marwah Daud Ibrahim yang bukan hanya sekedar percaya tapi juga dengan kokoh dan sangat yakin berada di pihak KDTP adalah berada di sisi yang paling benar.

Selama ini Ibu Marwah Daud saya sangat hormati sebagai seorang tokoh masyarakat yang cerdas dan banyak aktif di mana-mana. Tentu saja saya kaget beliau bisa begitu kuatnya mempercayai kemampuan KDTP, juga membelanya dengan total.
Sepanjang acara saya perhatikan baik-baik argumentasi yang bermunculan dari para pembicara, dari yang lucu karena tidak nyambung hingga yang sangat rasional dan rapih logika berpikirnya. Kita bisa lihat argumentasi yang sangat baik, terstruktur, dan rasional sekalipun tidak mampu mengubah sikap dan pendirian dari Ibu Marwah.

Entah apa yang menyebabkan itu terjadi, tapi analisis amatiran dan sok tau saya, saya sebut sebagai fenomena jatuh cinta terlalu dini. Jangan terlalu serius, ini bukan dari dasar teori prikologi atau ilmiahnya, hanya label yang saya buat dan dirasa cocok saja 😀

Jatuh cinta terlalu dini versi saya adalah saat dimana kita sudah cinta setengah mati, sangat punya kecenderungan terhadap sesuatu, dan menafikkan informasi yang bertentangan dengan cinta tersebut sebelum kita sempat memvalidasi sudah tepatkah kepada siapa cinta itu kita berikan.

Source www.reactiongifs.com

 

Pembelaan terhadap sesuatu yang kita cintai, kagumi, dan hormati adalah hal yang wajar. Dalam bukunya yang berjudul All Marketers are Liars, Seth Godin menjelaskan bagaimana manusia ketika sudah terikat pada sebuah cerita atau informasi yang menggugah, disukai, dan ia percayai, maka ia akan menceritakannya kepada orang lain untuk membuatnya terlihat paling update atau berwawasan. Namun lebih jauh dari itu, cerita yang ia sampaikan cenderung hanya pada aspek positifnya saja, aspek negatif nya tidak akan diceritakan, atau bisa diabaikan.Dan semakin sering ia menyebarkan cerita tersebut, akan semakin yakin ia terhadap hal tersebut, jadilah ia ambasador atas subjek di balik cerita itu.

Manusia pada umumnya ingin dirinya terlihat pintar dan keren, menceritakan sesuatu yang menggugah, baru, tidak diketahui banyak orang akan membuatnya puas. Dan untuk membuatnya semakin menarik ia cenderung melebih-lebihkan atau menutupi aspek negatif dari cerita tersebut.

Saat ada kedai kopi baru dan unik di pinggir jalan Margonda misalnya, kita akan terlihat update dan keren saat bisa menceritakannya kepada orang lain paling pertama. Namun kita cenderung hanya akan menceritakan aspek positifnya sebagai referensi bahwa kedai kopi baru itu memang sangat fenomenal. Sementara aspek negatif seperti kursi di kedai kopi yang tidak nyaman, mencari tempat parkir yang sulit dan lama, hingga kondisi kamar mandi yang sempit tidak akan kita ceritakan karena itu akan mengurangi kekerenan kita atas informasi baru yang ingin kita sampaikan. Semua itu terjadi karena kita sudah menaruh cinta berlebih sedari awal, terlalu dini sebelum kita mengidentifikasi dan melakukan validasi aspek-aspek lainnya yang bisa menakar cinta tersebut.

source: http://cdn.makeagif.com/media/9-05-2014/2D0zhb.gif

 

Cinta yang kepagian akan membuat kita menutup aspek rasionalitas yang muncul setelahnya. Karena kita tidak suka untuk salah, terlebih mengakui kesalahan. Hal ini tentu saja tidak baik karena bisa saja informasi yang menjadi referensi kita menyukai sesuatu adalah referensi yang salah. Jadi biasa-biasa saja dalam menyukai atau excited terhadap sesuatu terlebih jika masih di awal, karena bisa jadi referensi kita hanya pada asumsi dan emosi sesaat saat itu.

Dan hal ini sangat relevan dalam pengembangan ide produk bagi sebuah startup yang baru merintis perjalanannya. Seorang founder startup pasti memulai perjalananya dengan rasa excited yang tinggi terhadap ide dan produknya, hingga terkadang ia jatuh cinta berlebihan terlalu pagi tanpa mengumpulkan cukup referensi rasional yang secara objektif yang bisa menakar rasa cinta itu.

Ketika hal itu terjadi maka ia akan cenderung tutup mata dan telinga atas fenomena-fenomena kecil yang menunjukkan bahwa produk yang ia sedang jalankan itu tidak akan bekerja. Ia tidak mau mendengar informasi selain bahwa produknya adalah barang yang super bagus, baru, dan berpeluang menjadi the next big thing. Di sinilah pentingnya kita mengumpulkan informasi dan referensi yang objektif dengan cara validasi.

Validasi adalah keterbukaan diri kita untuk berani menemukan ada yang salah dan mengakui kesalahan itu biarpun sangat pahit.

Validasi bisa menjadi penyeimbang rasa cinta kita yang menggelora di awal perjalanan. Menjadi buffer penjaga jangan sampai semangat itu membutakan kita terhadap berbagai fakta yang kita temukan dalam perjalanan. Validasi adalah keterbukaan diri kita untuk berani menemukan ada yang salah dan mengakui kesalahan itu biarpun sangat pahit.

Validasi ide kita untuk mengetahui apakah ia akan bekerja ketika
Validasi ide kita untuk mengetahui apakah ia akan bekerja ketika

 

Banyak cara untuk melakukan validasi sehingga kita bisa mengetahui apakah produk kita punya kemungkinan lebih besar untuk bekerja atau tidak di paar. Salah satu cara yang paling suka adalah melakukan validasi dengan prototype produk kita, tapi supaya cepat proses pembuatan prototype-nya kita bisa gunakan teknik Design Sprint sehingga proses prototyping hanya perlu waktu 5 hari saja. Bahkan sekarang di program 1000startup digital sedang merancang agar fase prototyping hanya perlu waktu 1 hari saja! Dan validasi bukan hanya satu kali di awal saja, bahkan setiap pengembangan dan perubahan akan lebih baik jika didahului oleh langkah validasi.

Masa-masa perjalanan menciptakan produk atau karya di awal janganlah dijadikan sebagai masa-masa penuh madu dan gula yang semakin menggelorakan cinta kita terhadap ide dan calon produk kita, tapi jadikanlah masa-masa di awal itu sebagai masa-masa penuh tebing terjal yang harus kita daki. Taklukkan tebing-tebing itu dengan mencari fakta-fakta dan validasi paling brutal atas segala kemungkinan ide dan produk kita akan gagal di tengah perjalanan. Sehingga kita akan tahu sejak dini bahwa kita akan gagal, dan bisa merubah strategi, atau bahkan mengganti ide besar produk kita sebelum kita cinta terlalu dalam dengannya dan kemudian menjadi bebal menyangkal fakta yang muncul setelahnya.

Hal ini jangan diartikan bahwa kita sama sekali tidak menaruh cinta dan bekerja dengan hati dalam setiap pekerjaan kita itu, tidak bukan itu, tapi artikanlah ini untuk menjaga keseimbangan agar kita tetap objektif, adil, dan waras dalam menilai ide dan produk kita sendiri.

Terbiasa menerima pil pahit bahwa kita tidak selalu benar adalah salah satu kunci kita mampu belajar hal baru dan berkembang menjadi lebih baik. Jadi, jangan cinta terlalu dini, bangunlah cinta itu dalam perjalanan seiring semakin banyak dan lengkap referensi kita membangun ide dan karya kita tersebut.

Leave a Reply