comment 0

Membangun Produk Pain Killer atau Sekedar Vitamin?

Ada sebuah pandangan di kalangan founder startup yang dijadikan pedoman ketika ingin mencari sebuah ide bisnis yang potensial: Buatlah sebuah produk Pain-killer, alih-alih hanya vitamin.

Pain-killer adalah sebuah produk yang dapat menyelesaikan permasalahan penting serta harus diselesaikan secepatnya. Ketika tidak terselesaikan maka orang tersebut menempatkan dirinya pada resiko. Sedangkan vitamin adalah istilah untuk produk “nice-to-have“. Ketika kita ingat kita menggunakannya. Customer suka, tapi tidak benar-benar sangat membutuhkannya.

Sebagai ilustrasi, di kondisi pandemi seperti sekarang ini, vaksin covid-19 adalah salah satu contoh produk pain-killer. Masyarakat dunia punya masalah yang sangat genting dan penting dengan virus covid-19. Dan vaksin bisa menjadi solusi menyelesaikannya.

Mereka yang berhasil menemukan, memproduksi, mendistribusikan, dan menjual masif vaksin covid-19 akan memiliki potensi bisnis yang sangat besar. Contoh, salah satu produsen vaksin covid-19, Pfizer misalnya. Mereka diprediksi mendapatkan USD 975 juta pendapatan tahun 2020 dan diperkirakan akan mendapatkan USD 19 milyar di tahun 2021. Sebuah lonjakan pendapatan yang luar biasa.

Namun ada sebuah pandangan menarik lainnya dari Reid Hofman, former cofounder Paypal dan Linkedin. Ia berpendapat, untuk membangun sebuah bisnis yang sukses bertumbuh dan juga terus bertahan di masa depan, tidak cukup hanya dengan memilih jadi pain-killer, tapi ia harus menjadi keduanya. Sebuah pain-killer dan juga vitamin.

Salah satu contoh yang dipakai Reid untuk menjelaskan pandangan hal ini adalah industri kafe di tahun 90-an. Dulu fasilitas internet di kafe adalah sebuah vitamin. Karena internet bukan kebutuhan utama di waktu itu. Namun internet menjadi sebuah pain-killer di industri kafe masa kini. Akses internet sudah menjadi kebutuhan primer manusia. Kita akan kecewa jika masuk ke sebuah kafe yang tidak menyediakan fasilitas internet di dalamnya.

Dari contoh itu kita bisa menarik kesimpulan : Sebuah kebutuhan nice-to-have kemarin, dapat berubah menjadi must-have hari ini. Sebuah produk vitamin di masa lampau, bisa berubah menjadi pain killer di masa kini.

Pandangan ini berkaitan dengan kemampuan kita mengantisipasi apa yang terjadi di masa datang sedari sekarang. Hanya mereka yang telah bersiap dari sekarang yang punya probabilitas lebih besar untuk memberikan produk yang bagus pada saat benar-benar dibutuhkan di masa datang.

Tokopedia dan Bukalapak hadir di Indonesia sejak 2009 dan 2010, era dimana industri marketplace belum menjadi kebutuhan penting waktu itu. Belanja online masih jadi vitamin kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan belanja online menjadi semakin penting dan banyak diperlukan. Akhirnya karena brand Tokopedia dan Bukalapak telah hadir sejak awal dan terus membaik sepanjang perjalanan, mereka dapat menikmati pertumbuhan bisnis yang tinggi seiring dengan datangnya momentum belanja online di Indonesia.

Memilih produk dengan value ramah lingkungan yang melekat pada brand-nya hari ini memang adalah sebuah vitamin (nice-to-have). Namun kita sudah melihat trend yang semakin menguat saat banyak orang menjadikan value proposition ramah lingkungan sebagai salah satu parameter penting untuk menjatuhkan pilihannya pada produk tersebut. Itulah mengapa value organik, environment friendly, dan semacamnya saat ini mulai banyak mendapatkan tempat penting di market.

Jadilah “pain-killer” di hari ini, lalu lengkapilah solusi/produk kita tersebut dengan layanan-layanan “vitamin” potensial lainnya. Karena ada kemungkinan layanan nice-to-have dari vitamin kita tersebut akan jadi value proposition yang penting bagi customer di masa yang akan datang.

Leave a Reply