comment 1

Menjadi Pembeda

Sejak 17 tahun yang lalu orang tua saya tinggal dan membuka usaha di daerah Teluk Naga, Tangerang. Ayah membawa kami tinggal di sana dengan satu alasan, karena di tempat itulah beliau mendirikan usahanya.

Kalau 17 tahun yang lalu, ayah saya adalah yang pertama membuka usaha penjualan komponen elektronika di sana (Teluk Naga 17 tahun yang lalu masih sangat sepi dan penuh dengan sawah). Tapi saat kini, toko semacam ayah saya sudah sangat banyak berjejer di sepanjang jalan. Tapi alhamdulillah, toko beliau termasuk yang paling laku di antara toko peralatan elektronik lainnya di sana. Alasan yang saya amati selama ini adalah karena para pelanggan merasa nyaman berbelanja dilayani oleh ayah saya.

Salah satu kemampuan ayah yang tidak dimiliki oleh para pemilik toko kebanyakan adalah pemahaman terhadap semua komponen elektronik yang tinggi dan komprehensif. Hal ini sangat penting dan bermanfaat bagi para teknisi agar bisa sekaligus berkonsultasi dengan ayah saya saat mereka berbelanja. Ditambah lagi, ayah ketika memberikan saran dan analisis tidak tanggung-tanggung memang, semuanya diberikan hingga tuntas. Inilah competitive advantage tokonya, yaitu personil dirinya yang berkapasitas.

Begitupun dalam dunia startup, mereka yang punya competitive advantage akan memiliki keunggulan yang sulit ditandingi oleh startup lainnya. Competitive advantage ini bisa berupa banyak hal, seperti tim yang punya domain expert atau pengalaman, network di industri yang digeluti, ataupun modal besar yang bisa menjadi bahan bakar pertumbuhan startupnya.

Competitive advantage di sisi SDM atau personil tim adalah hal yang sangat bermanfaat terutama di fase awal perjalanan, saat dimana kita perlu sesuatu yang dapat mendongkrak dan membuat perbedaan pada startup kita dengan cepat.

Ayah Jay Konsultan Jodoh?
Ayah Jay Konsultan Jodoh?

 

Mari kita tengok cerita perjalanan awal Apple. Selama ini kita melihat Apple identik dengan Steve Jobs. Memang benar, tapi di masa awal perjalanan, faktor Steve Wozniak , co-founder nya Steve Jobs-lah yang menurut saya sangat signifikan.

Steve Wozniak begitu spesial karena tanpa peranannya, Apple tidak akan bisa berdiri dan membuat personal komputer pertamanya. Dialah seorang diri yang menjadi arsitek komputer pertama Apple, merancang dan merealisasikan sendiri produk-produk Apple generasi awal. Di tengah pekerjaan fulltime-nya sebagai engineer di Hp, Wozniak bisa menciptakan komputer personal paling powerful dan compact hanya dengan memanfaatkan waktu malam dan weekend nya. Memang salah satu yang spesial darinya adalah mampu merancang chip prosesssor dengan efisiensi berkali lipat dari prosesor tercanggih untuk produk komersial di masa itu.

Hal ini tentunya bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Sejak masih di bangku SMA, Wozniak memang sudah hobi membuat rancangan arsitektur chip. Bahkan walaupun masih SMA, arsitektur chip karyanya sudah 2 kali lipat lebih efisien dari chip-chip paling powerful yang beredar di pasaran saat itu.

Wozniak punya advantage skill dan kapasitas yang luar biasa, yang tidak dapat diduplikasi dengan mudah oleh startup lainnya. Atau, kalau yang lain ingin memilikinya juga, mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan waktu yang tidak sebentar.

Nah, inilah yang seharusnya mampu menggelitik kita, terutama yang ingin mendirikan startup tangguh dan berdampak. Kita semua harus punya skill dan kapasitas yang spesial untuk membuat diri kita menjadi pembeda. Menjadikan diri kita competitive advantage startup kita.

Kita banyak membaca beragam informasi tentang parameter-parameter penting yang membuat sebuah startup bisa sukses, hingga beragam tools maupun sarana tuk membuat ekosistem startup yang kondusif. Namun tetap saja, talent atau kualitas SDM merupakan salah satu hal terpenting dalam ekosistem tersebut.

Woz Sang Arsitek
Woz Sang Arsitek

 

Carilah skill apa yang perlu kita asah sehingga kita benar-benar bisa menjadi expert di sana. Berlatih-minta feedback-perbaiki. Hingga kehadiran kita selalu memberikan dampak dan menjadi pembeda, terutama untuk startup kita.

Di masa awal perjalanan Badr contohnya, talenta inilah sebenarnya yang menjadi modal utama kami. Kami memulai tanpa modal, tanpa kantor, dan tanpa pengalaman bisnis. Dulu kami hanya bertiga, saya, Mas Yuwono, dan Sani. Kami memulai perjalanan dari membuat game Islami, membuat software manajemen proyek, hingga akhirnya menemukan keberanian tuk membentuk perusahaan.

Salah satu yang spesial di masa awal adalah kehadiran Mas Yuwono. Dengan pengalaman 11 tahun melanglang buana di dunia profesional IT, menjadikan beliau dapat menjadi sosok mentor teknologi yang mumpuni bagi kami. Jika orang di luar banyak melihat bahwa Badr sangat identik dengan seorang Andreas Senjaya, sejujurnya saya perlu akui, kehadiran saya di awal tidak memberikan faktor signifikan di Badr. Jauh dari kata strategis.

Tapi dari sana saya menyadari bahwa saya harus menemukan aspek lain yang saya mampu unggul dan memberikan value lebih di sana untuk Badr. Setelah itu, saya kemudian fokus untuk membangun jejaring dan meningkatkan pemahaman di sisi bisnis. Justru di sanalah ternyata saya mampu memberikan nilai lebih.

Kalau kata Aa Gym, perubahan bisa dimulai dari yang kecil, dari sekarang, dan dari diri kita sendiri. Maka mari kita tanamkan pola pikir bahwa diri kita harus terus tumbuh progresif. Dan ini bukan hanya tentang faktor eksternal seperti darimana kita, dimana kita bekerja, posisi kita, atasan kita, dan semacamnya, tapi jauh lebih substansial, adalah bagaimana daya dorong internal kita selalu menyala tuk menjadikan diri kita mendobrak batas dan terus membaik.

Jika hal ini dilakukan oleh para pemuda pemudi Indonesia maka kita akan menyaksikan semangat progresivitas yang luar biasa. Dan pada saatnya, karya monumental, terutama produk ataupun perusahaan kelas dunia, bukan lagi soal isapan jempol belaka.

1 Comment so far

Leave a Reply