comment 0

Bertumbuh Bersama

Bulan September ini adalah salah satu bulan kesedihan terdalam teman-teman Badr Interactive. Dalam satu bulan ini kami kehilangan 2 orang saudara yang telah membersamai kami sangat lama, Yasir dan Anet, hiks hiks.
Yasir dan Anet akan memulai petualangan barunya masing-masing sehingga harus meninggalkan Badr saat ini. Sebagaimana layaknya perpisahan, tentunya momentum ini menjadi sebuah hal yang berat buat kami semua. Perjalanan 3tahun lebih bersama yang dilalui Yasir dan Anet selama ini telah menorehkan bekas dan kenangan yang dalam untuk Badr. Mereka sudah menjadi bagian penting dan bagian dari identitas Badr secara tidak langsung.

Salah satu alasan terbesar Anet dan Yasir harus meninggalkan Badr saat ini adalah untuk mencari dan menekuni wahana baru yang bisa mengoptimalkan potensinya. Anet ingin menekuni bidang ilustrasi sehingga akan memulai karir sebagai Ilustrator di salah satu perusahaan teknologi yang lebih besar di Jakarta, dan Yasir juga ingin bisa membuat karya sendiri sehingga memulai karirnya menjadi entrepreneur. Bisa dikatakan kolam aktualisasi yang kami miliki saat ini belum cukup besar untuk menampung Anet dan Yasir tuk bisa tumbuh, berkembang, dan membesar.

Sebenarnya bagi saya personal, penyebab utama munculnya kesedihan yang cukup mendalam bukan karena Anet dan Yasir harus meninggalkan Badr, sama sekali bukan karena sebagai teman dekat dan saudara sekaligus, tentunya saya ingin yang terbaik bagi mereka, ingin melihat mereka melejit menembus level tertinggi yang bisa mereka gapai dan memberi dampak positif untuk dunia. Alasan utama kesedihan saya ditujukan kepada diri saya sendiri. Sedih karena Badr belum mampu dengan cepat bisa menjelma menjadi sarana aktualisasi diri yang bisa memfasilitasi peningkatan kapasitas dan melejitkan potensi terbaik yang dimiliki anggotanya. Kami masih bertumbuh dari sesuatu yang tidak ada, sangat kecil, kemudian membesar, namun belum meraksasa hingga menjadi arena yang memungkinkan banyak alternatif aktualisasi diri.

Di Badr Interactive kami selalu memperlakukan setiap anggotanya sebagaimana layaknya keluarga sendiri. Tidak heran jika keakraban, kedekatan, dan ikatan persaudaraan di sini sangat dekat. Kami suka belajar, mengaji, bercanda, bermain, dan beragam hal lainnya bersama-sama tulus dari hati dan hangat. Kami ingin menjalankan perusahaan ini dengan pendekatan berbeda, bahwa visi besar yang ingin kita bela dan perjuangkan dapat kita capai bersama-sama seiring dengan semakin kuatnya perusahaan ini.

Memang berbeda sekali dengan teori-teori manajemen SDM di luar sana yang memperlakukan rekan kerja kita sebagai resource misalnya, atau salah satu pendekatan modern yang disampaikan oleh Reid Hoffman dalam bukunya The Alliance tentang meletakkan posisi karyawan sebagai rekan aliansi untuk mencapai kesepakatan/target tertentu. Kami ingin memandang orang-orang yang bekerja bersama kami lebih jauh berharga, sebagai saudara seperjuangan, sebagaimana Rasulullah yang memperlakukan sahabat-sahabatnya. Di mana setiap sahabat Rasulullah bahkan selalu merasa dirinyalah yang paling dicintai Rasulullah saking dekatnya persaudaraan mereka.

Memandang setiap orang seistimewa saudara sendiri yang membawa kami ingin bersama-sama merealisasikan visi kami yang masih sangat panjang ini dengan cara menjadikan perusahaan ini tempat berkembang bersama, dan terus menjadi wahana aktualisasi diri yang tidak lekang terhadap waktu, bukan perusahaan yang suatu saat akan dijual sehingga nasib karyawannya bergantung pada owner perusahaan setelahnya. Terdengar omong kosong jika dibandingkan dengan kondisi realita zaman, namun kami telah merasakannya sendiri, dan itu bekerja.

Dan tentu saja, untuk merealisasikan keinginan itu membutuhkan kekuatan yang besar, terutama untuk menyediakan ruang gerak dan juga pemenuhan tuntutan kebutuhan yang juga tidak sedikit. Hal ini masih menjadi PR bagi kami yang masih bertumbuh di fase-fase awal. Jika membayangkan kondisi ideal dimana kebutuhan aktualisasi dan kemapanan finansial bertemu, maka mungkin akan terlintas perusahaan seperti Google. Yap, kami berarti perlu mendekati kondisi itu untuk memungkinkan hal-hal di atas terjadi. Menantang dan sulit sekali bukan?
Tapi saya tidak akan menyerah dan berputus asa, kami akan terus berlari!
Paling tidak, momentum ini menjadi pelecut bagi saya khususnya, bahwa kami masih harus berpikir dan berjuang lebih keras, jalan kami masih panjang, titik batas optimal kami masih jauh. Kepergian saudara saudari istimewa yang telah menyertai kami selama ini membuat saya semakin terlecut dan teringat lagi keinginan kuat agar kami semua di sini bertumbuh bersama, yang dalam perjalanannya bisa merealisasikan visi kami tuk membumikan nilai-nilai kebaikan Islam melalui karya teknologi bersama sama pula.

Selamat berjuang dengan keras juga di sana Yasir dan Anet, semoga suatu saat berjumpa lagi, terus jaga silaturahim. Atau, jika Allah berkehendak, kita bisa berjuang dalam satu wahana bersama lagi, Yeah!
Dan untuk teman-teman seperjuangan di Badr yang masih bersama saat ini, kalian sangat istimewa bagi saya, kalian selalu bisa menjadi alasan bagi diri ini tuk senantiasa mengobarkan semangat bertumbuh bersama membesarkan perusahaan kita ini. Memperjuangkan mereka yang telah menitipkan alokasi waktu hidupnya berjuang bersama, adalah sesuatu yang sangat spesial bagi saya. Semangat!

Leave a Reply