comments 10

Refleksi Satu Bulan Tinggal di US

Besok insyaAllah sudah genap 1 bulan saya dan keluarga menetap di US, negeri dengan GDP terbesar di dunia saat ini. Saat saya melakukan refleksi satu bulan tinggal di US hingga kini, alhamdulillah sangat banyak inspirasi, pembelajaran, dan pengetahuan yang didapatkan.

Perjalanan saya selama di US bukanlah sesuatu yang mudah dan bukan pula perjuangan saya seorang diri. Ada banyak orang yang turut berjuang dan berjasa besar di balik perjalanan ini.

 

Yang paling pertama adalah istri dan putri saya, Ifah dan Azima. Mereka bersedia ikut dan menemani saya selama perjalanan adalah sebuah nikmat yang wajib sekali disyukuri. Ketika dijalani keberadaan Ifah dan Azima sangat berarti sekali dalam menjalani hari demi hari di sini.

Pertama mereka bisa menjaga saya dari fitnah dan godaan-godaan negatif di sini. Di sini Aurat terpapar, minum-minum, pergi ke bar/club, dan sejenisnya sudah jadi hal yang biasa. Terlebih saya berada pada lingkungan yang sangat plural dengan orientasi materi yang sangat tinggi, kalau tidak hati-hati menjaga diri dan ijin perlindungan dari Allah, bukan tidak mungkin godaan tersebut perlahan masuk mulai dari berbagai pemakluman ringan.

Kedua mereka senantiasa bisa menjadi pelepas penat, penghibur, dan tentunya penyemangat diri ini. Dengan tekanan program yang tinggi serta kepadatan aktivitas, senyum polos Azima ataupun pembersamaan Ifah misalnya, senantiasa bisa meredakannya seperti hujan yang membasahi tanah tandus berdebu, tsah,,

Keluarga besar Badr Interactive, yang harus berjuang tanpa penyertaan saya secara penuh hingga menjelang pertengahan tahun mendatang, juga mengambil peran juang dalam penggalan kisah ini. Tentunya akan ada langkah yang timpang sementara tanpa keberadaan saya(ke-GR-an sekali saya :D), tapi mereka berlapang hati menerima, dan terus bergerak ke depan. Saya ingat kalimat yang saya sampaikan sebelum keberangkatan kepada teman-teman di Badr Interactive, “saya akan bekerja keras dan berjuang di sana, teman-teman juga saya yakin akan berjuang di sini, hingga ketika kita bertemu lagi, kita sudah bertumbuh jadi lebih baik.” Yap insyaAllah kita sedang berlari bersama di ruang berbeda namun dalam putaran waktu yang sama.

Foto Semangat dari Keluarga Besar Badr Interactive
Foto Semangat dari Keluarga Besar Badr Interactive

Berikutnya ini juga adalah perjuangan mereka yang spesial, yang merelakan perjalanan sementara saya ini. Keluarga saya, keluarga besar mertua, atau sahabat-sahabat satu amanah lainnya di Indonesia. Perjuangan mereka yang mendukung dan membantu baik langsung maupun tidak langsung, material maupun moral. Dari menjelang keberangkatan hingga detik tulisan ini ditorehkan. Rindu bercengkrama dengan mereka saat ini akan menjadi pupuk yang menyuburkan pertemuan tertunda kita karena perjalanan ini.

Perjuangan ini adalah perjuangan mereka semua, mereka menjadi alasan untuk tidak pernah berhenti dalam berat langkah, lelah mendera, waktu yang melenakan, gagalnya ikhtiar, harapan yang tak sampai, atau surutnya semangat. Oleh karena itu perjuangan ini harus memberikan banyak makna, dalam tulisan kali ini saya ingin sharing sebagian refleksi singkat selama satu bulan ini tinggal di US.

 

Penguatan Keluarga

Perjalanan sebulan tinggal di US ternyata tanpa di sadari adalah juga tentang penguatan dan team building keluarga. Saat ini waktu hidup saya, di luar ibadah dengan Allah, diisi oleh dua hal, pertama aktivitas di program akselerasi bisnis, kedua oleh keluarga. Jauh lebih sederhana dari sisi jumlah dan jenis kegiatan ini membuat kualitas keduanya jadi meningkat signifikan.

Ketika di Indonesia banyak sekali jenis dan jumlah kegiatan, sehingga kadang benturan yang terjadi harus mengorbankan kualitas dari kegiatan tersebut. Memang benar bahwa terkadang untuk bisa mengatur sesuatu menjadi lebih rapih kita harus menyingkirkan semuanya dulu kemudian mulai menyusun kembali satu persatu berdasarkan urutan skala prioritas. Sama seperti kita mengatur pakaian di lemari, terkadang kita harus keluarkan semua pakaian dulu dari lemari, kemudian pilih mana yang paling prioritas dan sisanya bisa dijadikan hadiah bagi yang membutuhkan atau dijual sebagai pakaian bekas. Kesempatan ini ternyata saya sadari adalah sarana saya mengosongkan dulu lemari, kemudian memulai lagi menata satu demi satu kantong-kantong alokasi kegiatan.

Aspek keluarga yang banyak tergerus oleh beragam aktivitas selama di Indonesia menjadi semakin lapang dan besar porsinya ketika di US, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Di hari kerja memang saya rata-rata berangkat beraktivitas rutin jam 9 pagi kemudian pulang jam 7 atau 8 malam, tidak jauh berbeda seperti di Indonesia, tapi karena ketika sampai di rumah yang ditemui adalah Ifah dan Azima, tidak ada urusan lain, maka waktu kami menjadi jauh lebih berkualitas, terlebih ketika weekend, family time kami menjadi jauh baik.

Alhamdulillah kesempatan 4 bulan ini akan kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik biidznillah.

Family TIme Bersama Ifah dan Azima :3
Family TIme Bersama Ifah dan Azima :3

Hidup Mandiri, Yeah!

Yap, selama kami di sini berarti adalah latihan kemandirian. Nah di sini kemampuan kami mengatur finansial dan juga operasional benar-benar diuji.

Menjadi tantangan yang lebih karena biaya hidup di sini rata-rata 5 kali lebih tinggi dibanding di Indonesia. Berdasarkan catatan pengeluaran kami saat ini, kami sudah menghabiskan hampir Rp 40 juta dalam 1 bulan ini. Itupun masih tergolong sangat hemat karena kami memasak makanan sendiri, saya makan siang membawa bekal dari istri setiap hari, dan kami baru 4 kali makan di luar sejak tiba di sini.

Yang signifikan membuat lebih murah adalah biaya sewa tempat tinggal kami sebulan ini hanya berjumlah Rp 21 juta perbulan, rata-rata sewa dengan fasilitas yang kami dapatkan di daerah tempat tinggal kami itu umumnya minimal Rp 28 juta per bulan. Kalau di kota San Francisconya paling murah sebulan bisa Rp 52 juta. Ini berkat bantuan Ibunya Ifah yang punya kenalan di sini dan bisa mencarikan tempat dengan sewa sangat terjangkau, lingkungan ramah anak, banyak akses fasilitas umum/belanja sehari-hari.

Ngomong-ngomong upah minimum buruh di sini (San Francisco) itu Rp 182 ribu perjam atau Rp 35 juta per bulan jika bekerja 40 jam per pekan, jelas jauh lebih tinggi dari upah minimum Indonesia di kisaran Rp 3 juta per bulan, mengingat kebutuhan hidup di sini juga berkali-kali lipat jauh lebih tinggi.

Yap memang hidup di California, terutama di San Francisco sangat berat dengan biaya hidup setinggi itu. Orang jika tidak punya pekerjaan di sini maka bisa jadi homeless (mereka yang tidak punya rumah). Banyak orang baik tua maupun muda, saat dipecat/di-PHK dari pekerjaannya akhirnya tidak mampu lagi membayar sewa tempat tinggal dan kebutuhan hidup di sini.

 

Informasi dan Akses Jejaring

Tidak dapat dipungkiri bahwa San Francisco adalah salah satu jantung ekonomi paling bergairah di dunia. Banyak perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 berkantor di sini, banyak eksekutif terbaik bertempat tinggal di sini, dan banyak event internasional terbesar diadakan di sini.

Setidaknya sangat memungkinkan bagi saya saat ini mencari benang merah untuk bisa berjejaring dengan tokoh-tokoh startup dunia dan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan startup teknologi yang ada di San Francisco.

Semua itu sudah cukup untuk menjadi alasan pertambahan informasi dan akses jejaring yang signifikan selama di sini. Sebulan ini memang adalah waktu bagi saya untuk beradaptasi, berarti bulan-bulan berikutnya adalah waktunya ekspansi 😀

Di program akselerasi bisnis yang sedang saya ikutipun terkumpul talenta-talenta startup terbaik dari beragam penjuru dunia. Saya punya teman baik dari Brazil dan Inggris saat ini, yang satu mendirikan perusahaan big data dan data analysis untuk bisnis, yang satu lagi mendirikan marketplace untuk usaha on demand.  Kalau suatu saat mau ekspansi ke negara mereka misalnya, sudah punya koneksi dan bisa lebih efisien setidaknya.

Saya ingin mengoptimalkan semua kesempatan yang ada di sini sebaik-baiknya di waktu yang terbatas ini. Termasuk juga silaturahim ke diaspora-diaspora terbaik Indonesia yang sedang berada di US.

 

Belajar dari Kehidupan Orang Amerika

Setiap bangsa memang punya  budaya dan karakternya masing-masing, pun demikian dengan US. Ada banyak aspek positif yang bisa jadi inspirasi, juga ada aspek negatif yang bisa jadi pembelajaran bagi kita.

Aspek positif yang berkesan bagi saya selama tinggal di sini adalah sarana transportasi umum, infrastruktur fasilitas publik, antusiasme terhadap ilmu, objektif dan terbuka, serta kecermatan pada hal detail.

Menelusuri fasilitas publik maupun transportasi umum di US, terutama San Francisco seperti merajut mimpi pembangun sarana fasilitas publik dan transportasi umum untuk Indonesia 10 tahun ke depan. Fasilitas publik seperti taman bermain, perpustakaan, jalan raya, tempat rekreasi, petugas kebersihan, hingga petugas keamanan dilengkapi dengan infrastruktur yang lengkap, modern, dan canggih.

Khususnya untuk perpustakaan dan taman bermain membuat saya dan Ifah sangat bersyukur karena bisa jadi sarana bermain Azima ditengah masih minimnya sarana sosialisasi Azima dengan rekan sejawat dan jumlah mainan/buku bacaan Azima di kamar.

Sangat berharap kota-kota besar dan jantung perekonomian Indonesia bisa mengejar ketertinggalan tersebut.

Salah Satu Playground di Taman Kota
Salah Satu Playground di Taman Kota

Tapi banyak juga aspek negatif yang bisa jadi pembelajaran bagi kita. Khususnya di San Francisco (karena saya belum banyak berkunjung ke kota-kota lain yang jauh) banyak sekali homeless, kriminalitas di beberapa tempat masih tinggi, empati dan kepedulian orang-orang terhadap kondisi orang lain yang relatif rendah.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, jika hidup di San Francisco tidak punya pekerjaan tetap, maka besar kemungkinan kita akan jadi homeless. Di sini banyak sekali, baik tua maupun muda, kulit hitam maupun putih, yang tidak punya tempat tinggal, tidur di trotoar, lorong stasiun, dan halte-halte transportasi umum. Perekonomian San Francisco memang sangat luar biasa, tapi juga rapuh. Seketika kita bisa diberhentikan dari pekerjaan, jika tidak ada asset yang bisa menunjang maka berakhir pula kemampuannya bayar sewa rumah, premi, hingga memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Memang ada bantuan sosial dari pemerintah, tapi itu secara faktual tidak mampu mengatasi permasalahan ini secara signifikan. Kalau di Indonesia entah kenapa tidak punya pekerjaan masih saya lihat bisa hidup biarpun sangat terbatas bahkan di kota kejam seperti Jakarta, kalau di sini galandangan yang tidur di pinggir jalan, tidak pernah mandi, kelaparan, dan gangguan jiwa seperti sudah lepas predikatnya sebagai bagian dari masyakarat. Jumlahnya juga banyak sekali terutama di beberapa tempat yang menyediakan sarana bantuan sosial untuk mereka. Sangat jadi kewajaran kalau kita sedang jalan kaki di sini, banyak orang yang bicara atau berceloteh tidak jelas sendiri karena gangguan jiwa akibat tekanan hidup yang begitu tinggi.

Salah Satu Kondisi Homeless di San Francisco
Salah Satu Kondisi Homeless di San Francisco

Melihat kondisi seperti ini tentu sangat memprihatinkan bagi saya pribadi, kesenjangan sosial yang begitu tinggi. Orang kantoran bisa bergaji Rp 100 juta perbulan, tapi disekitarnya ada orang-orang yang kondisi ekonominya sangat kekurangan.  Di tambah dengan individualisme yang tinggi, empati yang rendah, jadilah mereka seperti hidup di dua dunia berbeda, tidak saling memedulikan satu sama lainnya. Sepanjang saya berkeliaran di San Francisco hanya 1 kali momen yang membuat saya terenyuh saat di lorong stasiun ada anak remaja yang memberikan sandwich kepada sebagian homeless di sana.

Jika dulu waktu masih jadi aktivis mahasiswa kita sering mengkaji tentang kapitalisme, maka di sinilah saya benar-benar menyaksikan kejamnya kapitalisme bagi kehidupan bermasyarakatnya.

 

Bersyukur Hidup di Indonesia

Beragam pembelajaran yang telah saya jabarkan, biarpun belum semua mampu saya uraikan pada kesempatan kali ini membuat saya semakin bersyukur tinggal di Indonesia dan tentu saja merindukannya. Memang pendapatan pekerja di Indonesia tidak setinggi di US, infrastruktur pun kita kalah jauh. Tapi kita masih punya harapan, optimisme ini yang harus kita pelihara dan realisasikan dengan langkah konkret. Saya ingin menjadi bagian dari penggerak itu. Inspirasi negara maju kita jadikan pelecut, pembelajaran dari mereka kita jadikan pengingatan tuk seksama dalam melangkah.

Entah apa lagi alasannya, tapi kecenderungan hati saya sangat dengan jelas mengatakan bagi seorang Andreas Senjaya, adalah anugrah hidup di tanah air, membangun kapasitas diri, dan memberikan sumbangsih untuk negeri.

Ngomong-ngomong, pengalaman hidup sebulan di negeri ini, membuat saya punya keinginan suatu saat jika amanah publik tak lagi tergantung fisik dan waktu di Indonesia, ingin setiap tahun menyisihkan waktu 2 hingga 4 pekan menjelajah beragam peradaban dunia. Menjuput inspirasi tuk meresapi esensi sebagai insan yang terus belajar dan lebih baik. Semangat!

10 Comments

  1. Semangat bang Andreas…. Terimakasih atas sharingnya, membuat kami yang sedang berjuang di indonesia mengucap syukur tak terkira dg persaingan yg belum begitu sadis seperti di US…. Ditunggu kisah lainnya… ^_^

  2. Muhan

    Terimakasih Mas Andreas atas sharingnyaa.. ^_^
    Ingin rasanya mencoba pergi ke luar negeri, walaupun kelihatannya berat juga tinggal disana. Semangat terus Mas Andreas

Leave a Reply