Aslan rebahan di mushalla fakultas. Setelah shalat Dzuhur, suasana mushalla mulai lengang. Mahasiswa berhamburan menuju kelas atau kantin fakultas. Aslan masih betah berbaring, matanya menatap langit-langit, dahinya berkerut.
Rayyan yang baru selesai mengaji di sudut mushalla, menghampiri sahabatnya itu.
“Kenapa, Lan? Tampang lo kusut banget,” tanya Rayyan sambil duduk bersila di samping Aslan.
Aslan menghela napas panjang. “Gue baru aja dapet amanah, Ray.”
“Amanah apaan?”
“Ketua panitia penyambutan mahasiswa baru fakultas.”
Rayyan mengangkat alisnya. “Wih, serius lo? Itu kan kepanitiaan paling gede di fakultas?”
“Nah, itu dia masalahnya. Gue nggak pernah nyangka bakal ditunjuk. Ketua sebelumnya mengundurkan diri karena sakit, dan entah kenapa mereka milih gue sebagai penggantinya.”
“Harusnya lo seneng dong. Itu berarti mereka percaya sama lo.”
“Ya seneng sih, tapi gue juga takut, Ray. Acaranya tinggal sebulan lagi, sementara belum ada persiapan apa-apa. Gue harus nyusun panitia dari awal, cari anggaran, bikin perencanaan, sampai eksekusi… semua dalam waktu singkat. Gimana nggak pusing?”
Rayyan mengangguk pelan. Matanya menerawang, seperti mengingat sesuatu.
“Lo tau cerita Khalid bin Walid nggak, Lan?”
“Panglima perang Islam itu? Yang dijuluki Pedang Allah?”
“Iya. Gue jadi inget sama kisahnya yang mirip sama kondisi lo sekarang.”
Aslan beranjak dari posisi rebahannya, duduk tegak menghadap Rayyan. Matanya menyiratkan ketertarikan. “Mirip gimana?”
“Jadi gini, waktu itu Khalid lagi memimpin pasukan Islam menaklukkan Persia. Dia udah menang beberapa pertempuran penting, kayak pertempuran rantai Dzat as-salasil, Pertempuran Al-Anbar, hingga Pertempuran Ayn at-Tamr yang bisa menguasai seluruh Mesopotamia bagian selatan dan tengah. Situasinya lagi bagus banget.”
“Terus?”
“Nah, di tengah-tengah momentum kemenangan itu, Khalifah Abu Bakar mengirim surat perintah ke Khalid. Dia diminta segera pergi ke Syam untuk membantu pasukan Abu Ubaidah yang lagi kesulitan menghadapi tentara Romawi.”
Aslan mengernyitkan dahi. “Kok kayak pindah gitu aja? Bukannya itu bikin strategi yang udah disusun jadi berantakan?”
“Exactly! Tapi Khalid nggak mengeluh. Dia langsung mikir strategi gimana caranya sampai ke Syam secepat mungkin tanpa ketahuan tentara Romawi.”
Rayyan melanjutkan ceritanya dengan semangat. “Akhirnya Khalid memutuskan sesuatu yang gila. Dia pilih jalur yang nggak biasa—lewat gurun pasir dengan rute garis lurus. Padahal ini super berisiko, Lan. Bayangkan, berhari-hari di gurun dengan persediaan terbatas.”
Rayyan mengambil handphone dari sakunya, membuka aplikasi peta dan memperbesar tampilan wilayah Timur Tengah.

“Nih, lihat.” Rayyan menunjukkan layar handphonenya ke Aslan. Jarinya menelusuri garis lurus di antara dua titik. “Pasukan biasanya lewat jalur ini yang memutar, ikutin jalan dagang yang ada oase dan kota kecil. Tapi Khalid? Dia ambil jalur ini—” Rayyan menggambar garis lurus dengan jarinya, “—langsung nembus gurun pasir tanpa peradaban. Nggak ada oase, nggak ada kota, cuma pasir dan terik matahari. Bahkan hingga hari inipun wilayah itu masih jadi gurun tak berpenghuni. Ekstrem kan?”
Aslan menatap peta itu dengan takjub. “Itu… nekat banget.”
“Terus gimana caranya dia berhasil?”
“Dia nyusun strategi detail. Pertama, dia hitung kebutuhan logistik dan durasi perjalanan. Nggak boleh bawa bekal terlalu banyak karena malah bikin lambat. Kedua, dia punya teknik jenius menyimpan air. Tau nggak?”
Aslan menggeleng.
“Dia kasih unta-unta mereka minum banyak air setelah untanya dibuat haus dengan makan minum dicampur garam. Air itu disimpan dalam perut unta sebagai cadangan. Kalau pasukan haus, mereka bisa ‘ambil’ air dari perut unta dengan menyembelihnya di perjalanan. Mulut unta juga diikat supaya unta ga makan dan mencemari air yang udah diminum.”
“Serius? Itu beneran bisa?”
“Bisa, Lan. Dengan strategi itu, pasukan Khalid berhasil mencapai Syam lewat gurun dengan selamat. Dua kali lebih cepat dan tanpa terdeteksi mata-mata Romawi. Kedatangan mereka yang tiba-tiba mengubah seluruh dinamika perang, dan akhirnya umat Islam berhasil membebaskan Damaskus.”
Aslan terdiam, mencerna cerita Rayyan.
“Jadi intinya, Lan,” sambung Rayyan, “ketika kita dihadapkan pada tantangan besar, yang penting bukan lama-lama mengeluhnya, tapi gimana kita fokus nyari strategi. Kalau kita bener-bener niat dan usaha, insyaAllah Allah kasih hikmah dan jalan keluar.”
Aslan mengangguk pelan. “Lo bener, Ray. Nggak ada gunanya lama-lama mengeluh. Gue harus segera cari strategi untuk mengatasi kondisi yang ada.”
“Nah, gitu dong! Lagian, lo kan niatnya baik. Mau bantu mahasiswa baru adaptasi di kampus.”
“Iya sih. Gue masih inget banget waktu hari pertama dulu. Seniornya ramah-ramah dan sigap banget bantuin kita. Gue pengen mahasiswa baru tahun ini juga ngerasain hal yang sama.”
“Tuh kan, niat lo baik. Tinggal eksekusinya aja. Gue yakin lo bisa, Lan.” Rayyan menepuk pundak Aslan.
Aslan tersenyum. Mendadak, ide-ide mulai bermunculan di kepalanya.
“Gue ada ide, Ray. Gimana kalau kita manfaatin teknologi? Bikin grup koordinasi online, bagi tugas secara efisien pakai trello, dan bikin timeline yang detail.”
“Nah, itu baru Aslan yang gue kenal!”
“Terus kita bisa manfaatin alumni yang masih deket sama fakultas. Mereka pasti mau bantu kalau diminta.”
“Betul. Dan jangan lupa, anggaran bisa dioptimalkan dengan sponsorship dan kerjasama dengan alumni juga.”
Aslan bangkit, semangat baru terpancar di wajahnya. “Makasih banget, Ray. Gue harus segera mulai. Niatnya buat membantu adik-adik baru, sisanya Allah yang atur.”
“Sama-sama, Lan. Kalau butuh bantuan, gue siap bantuin lo.”
Aslan mengangguk mantap. Ia sadar, tantangan bukan untuk dihindari, tapi untuk ditaklukkan dengan strategi yang tepat. Seperti Khalid bin Walid yang menemukan jalan di tengah gurun, ia pun akan menemukan jalan mewujudkan penyambutan mahasiswa baru yang berkesan, meski waktunya singkat.
“Ray, nanti sore lo bisa ke sekre nggak? Gue mau mulai nyusun struktur kepanitiaan.”
“Bisa, Lan. Jam 4 gue ke sana.”
“Alhamdulillah. Yuk, kita ke kelas dulu. Udah mau masuk nih.”
Mereka berdua beranjak meninggalkan mushalla. Langkah Aslan kini terasa lebih ringan. Ia tak lagi memandang amanah sebagai beban, tapi sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.