Matahari bersinar terik di siang hari ketika Dara melangkahkan kakinya memasuki rumah sepulang sekolah. Tidak seperti biasanya, kali ini wajahnya tertekuk, bibirnya mengerucut. Tas sekolahnya ia letakkan di atas meja dengan sedikit hentakan.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya lesu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abah yang sedang membaca buku di ruang tengah. Mata Abah bergeser dari buku yang dibacanya, mengamati putri kecilnya yang biasanya ceria itu. “Kenapa wajahmu kusut begitu, Dara? Seperti baju yang lupa disetrika.”
Dara menghempaskan tubuhnya di samping Abah. “Abah, Dara kesal!”
“Kesal kenapa, Nak?” tanya Abah sambil menutup bukunya.
“Minggu depan kan ada pentas seni di sekolah. Semua anak dapat tugas yang keren-keren. Zahra jadi penari, Aisyah jadi pembawa acara, Ahmad jadi pemain drama. Tapi Dara cuma dapat tugas membersihkan panggung sebelum dan sesudah acara!” Dara mengeluh dengan suara bergetar. “Kenapa Bu Guru memberikan Dara tugas yang tidak penting seperti itu?”
Abah tersenyum lembut. Ia mengusap jilbab Dara yang sedikit berantakan.
“Siapa bilang membersihkan panggung itu tidak penting?” tanya Abah.
“Ya tidak penting lah, Bah. Tidak ada yang melihat Dara. Tidak ada yang akan tepuk tangan untuk Dara. Dara cuma… tukang bersih-bersih,” Dara menunduk sedih.
Abah menegakkan duduknya. “Dara, tahukah kamu bahwa Rasulullah SAW, manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, pernah bekerja sebagai penggembala kambing?”
Dara mengangkat kepalanya, menatap Abah dengan mata penasaran. “Benarkah? Rasulullah pernah menggembala kambing? Bukankah itu pekerjaan yang… biasa saja?”
“Benar sekali. Ketika masih muda, sebelum diangkat menjadi Nabi, Rasulullah pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah,” Abah mulai bercerita. “Pada masa itu, menggembala kambing dianggap sebagai pekerjaan yang remeh, tidak banyak yang mau melakukannya. Tapi tahukah kamu, hampir semua nabi pernah menggembala kambing sebelum diutus Allah sebagai rasul.”
“Benarkah itu, Bah?” tanya Dara dengan mata membulat.
“Iya, sayang. Bahkan ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah bersabda: ‘Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali dia menggembala kambing terlebih dahulu.’ Para sahabat bertanya, ‘Termasuk engkau wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, aku pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (mata uang kecil).'”
Dara mengernyitkan dahinya. “Tapi kenapa ya, Bah? Kenapa harus menggembala kambing?”
Abah tersenyum. “Itu adalah pembelajaran dari Allah. Menggembala kambing mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, dan ketelatenan. Kambing-kambing itu bisa berpencar, kadang nakal, dan perlu pengawasan terus-menerus. Bayangkan saja, jika kamu bisa mengurus dan memimpin sekumpulan kambing yang tidak bisa diajak bicara, bukankah itu melatihmu untuk kelak memimpin manusia yang bisa diajak berdialog?”
Dara mulai mengangguk-angguk, mulai memahami maksud Abah.
“Dan yang lebih penting lagi,” lanjut Abah, “meskipun upahnya kecil dan pekerjaannya dianggap remeh oleh kebanyakan orang, Rasulullah melakukannya dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Beliau tidak pernah mengeluh atau merasa pekerjaan itu di bawah martabatnya.”
“Lalu, apa yang terjadi setelah itu, Bah?” tanya Dara, kini penasaran dengan kelanjutan kisah tersebut.
“Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang sangat terpercaya, bukan hanya karena amanahnya dalam menggembala kambing, tapi juga karena kejujurannya dalam berniaga, tidak pernah berdusta, menepati janji, dan memperlakukan semua orang dengan adil dan penuh kasih sayang bahkan sebelum menjadi nabi. Sifat amanah inilah yang membuat beliau mendapat perhatian dari Siti Khadijah, saudagar wanita yang kaya dan terhormat di Makkah.”
“Oh, istri pertama Rasulullah?” Dara menyahut, teringat pelajaran di sekolahnya.
“Benar sekali. Khadijah mendengar tentang kejujuran dan kebijaksanaan Muhammad yang masih muda waktu itu. Ia kemudian mempercayakan Muhammad untuk membawa dagangannya ke Syam (Syria). Padahal perjalanan dagang ke Syam sangat jauh dan penuh tantangan. Tetapi karena amanahnya terjaga dengan baik, perdagangan itu berhasil gemilang. Khadijah yang awalnya mempercayakan bisnisnya kepada Rasulullah, akhirnya menikah dengan beliau karena kagum pada akhlak dan kejujurannya.”
Dara terdiam, menyerap semua cerita Abah. Perlahan-lahan, pemahaman baru mulai muncul di benaknya.
“Jadi,” kata Dara perlahan, “tugas yang kelihatannya remeh seperti menggembala kambing atau… membersihkan panggung, sebenarnya bisa jadi sangat penting ya, Bah?”
“Tepat sekali,” Abah mengangguk. “Tidak ada pekerjaan yang remeh selama kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Tanpa orang yang membersihkan panggung, bagaimana bisa pentas seni berjalan dengan baik? Bayangkan jika panggungnya kotor, berantakan, atau tidak siap. Semua pertunjukan akan terganggu.”
“Dan lagi,” tambah Abah, “Allah melihat keikhlasan dan kesungguhan kita dalam melaksanakan setiap amanah yang diberikan, sekecil apapun itu.”
Dara mengangguk, mulai tersenyum. “Berarti… kalau Dara membersihkan panggung dengan sangat baik, Dara juga bisa seperti Rasulullah ya, Bah? Menjalankan amanah dengan baik meskipun tidak terlihat orang lain?”
“Betul, sayang,” Abah mengusap kepala Dara dengan penuh kasih sayang. “Dan siapa tahu, suatu hari nanti, karena kamu dikenal sebagai anak yang amanah dan bertanggung jawab, kamu akan dipercaya untuk tugas-tugas yang lebih besar. Sama seperti Rasulullah yang dari menggembala kambing, kemudian dipercaya untuk membawa dagangan ke negeri jauh, hingga akhirnya dipercaya Allah untuk menjadi pemimpin umat manusia.”
Wajah Dara kini berseri-seri. Matanya berbinar penuh semangat. “Kalau begitu, besok Dara akan membersihkan panggung itu sampai mengkilap, Bah! Dara akan menunjukkan bahwa Dara bisa amanah seperti Rasulullah!”
Abah tertawa kecil. “Itu baru anak Abah.”
“Oh iya, Bah,” Dara tiba-tiba teringat sesuatu. “Tadi Abah bilang hampir semua nabi pernah menggembala. Memangnya siapa saja?”
“Nabi Musa juga pernah menggembala kambing bertahun-tahun untuk Nabi Syu’aib. Nabi Daud juga demikian. Bahkan dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, mereka semua pernah menggembala kambing,” jelas Abah.
“Wah, jadi memang benar ya Bah, Allah memang sedang melatih para nabi melalui pekerjaan yang tampaknya sederhana itu.”
“Betul sekali,” Abah mengangguk.
Malam itu, Dara tidur dengan senyum di wajahnya. Dalam hatinya, ia bertekad untuk menjalankan tugasnya besok dengan sebaik-baiknya. Ia tidak lagi memandang tugasnya sebagai sesuatu yang remeh, melainkan sebagai kesempatan untuk menunjukkan keamanahan dan tanggung jawabnya, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Keesokan harinya, panggung pentas seni sekolah Dara tampak berkilau. Tidak ada debu, tidak ada sampah, semuanya tertata rapi. Meski Dara tidak tampil di atas panggung, tapi berkat kerja kerasnya, semua penampilan berjalan lancar tanpa gangguan.
Setelah acara usai, Bu Guru mendekati Dara yang sedang membersihkan panggung untuk terakhir kalinya.
“Dara, terima kasih banyak. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Bahkan lebih dari yang Bu Guru harapkan,” puji Bu Guru dengan senyum hangat. “Tahun depan, Bu Guru ingin kamu menjadi koordinator acara pentas seni. Kamu telah menunjukkan bahwa kamu bisa diandalkan dan bertanggung jawab.”
Dara tersenyum lebar. Ia teringat perkataan Abah semalam. Ternyata benar, ketika kita menjalankan amanah kecil dengan baik, kita akan dipercaya untuk amanah yang lebih besar.
Dalam hati, Dara bersyukur. Hari ini ia telah belajar sebuah pelajaran berharga dari kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam—bahwa tidak ada pekerjaan yang remeh selama kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Yang penting bukanlah apa yang kita kerjakan, tapi bagaimana kita mengerjakannya.