comment 0

Totalitas Kasih Ibu

Totalitas Kasih Ibu
Totalitas Kasih Ibu

 

“Azima makin mirip mba Ifah pas kecil”, begitu ujar Ami Yusuf melalui whatsapp dari seberang belahan dunia sana.
.
Kala itu saya senyum-senyum aja bacanya. Kalau dulu pasti saya langsung ga mau kalah komentar: tapi mata Azima mirip ayahnya, Azima ikut tinggi ayahnya, blabla, dsb sampai segala bentuk terkecilnya dimirip-miripkan 😀
.
Sekarang, jangan kan hanya masalah kemiripan fisik, jika ekspresi sayang Azima akhirnya jauh lebih condong pada bundanya pun saya sangat rela. Kenapa? karena semua itu tidak akan pernah jauh lebih besar dari totalitas kasih sayang dan perjuangan seorang Ibu kepada anaknya.
.
Tak ada yang bisa mengalahkan totalitas kasih sayang seorang ibu.
.
Hingga kini masih teringat jelas oleh saya, salah satu hal paling menyenangkan ketika kuliah dulu adalah saat pulang ke rumah. Waktu berangkat lagi pasti selalu dibekali sekardus penuh bahan makan tuk bertahan hidup hingga periode pulang kemudian.
.
Tiap pulang hanya bawa badan, tapi kembali sudah bonceng kardus besar penuh. Saya sampai ingat persis ke isi-isinya saking seringnya: beras 5kg, energen min 4 paket, wafer beragam merk dan ukuran, teh celup 2 kotak, gula, tolak angin 2 kotak, roti tawar, roti sobek, dan jahe bubuk buatan ibu sendiri.
.
Bukan tentang makanannya, tapi tentang totalitasnya yang begitu perhatian, selalu memikirkan: ini anaknya bisa makan dengan layakkah di perantauan, padahal hanya berjarak 81 km dari rumah. Tapi itulah ibu, totalitas kasih sayangnya selalu tak bisa ditakar rasionalitas kita.
.
Takkan terlupakan betapa totalitasnya ibu mertua waktu bantu mengusahakan agar saya, istri, dan Azima menjelang awal 2016 bisa pergi semua bersama ke US tuk temani saya belajar. Waktu itu semua hitung-hitungan materi takkan cukup menanggung dari mulai biaya transportasi, setup kebutuhan awal, dan kebutuhan-kebutuhan selanjutnya.
.
Tapi bukan ibu namanya jika tak total dalam menjadi pijakan anak-anaknya tuh tumbuh berkembang walaupun harus berpeluh banyak. Sampai akhirnya kami bukan hanya bisa berangkat, tapi juga alhamdulillah punya saudara banyak sekali, hidup dengan kecukupan, dan kembali dengan selamat dengan ijin-Nya.

Bukan tentang besarnya bantuan dan bekalnya, tapi tentang begitu resah dan gundahnya kalau tak bisa total turut serta curahkan kasih sayang dalam setiap penggalan hidup kita.

.
Dan hingga kini, penggalan hidup di US biarpun sebentar, menjadi salah penggalan hidup terindah bagi kami. Di sinilah mungkin keberkahan dari totalitas kasih sayang seorang ibu, menembus bukan hanya saat terlibat, tapi membuka kunci-kunci keberkahan Sang Maha Kuasa dengan segala karunia-Nya.

Maka saya angkat topi dan mengakui takkan pernah kami bisa bersaing dengan para ibu kalau begini caranya. Terima kasih untuk para Ibu di dunia, karena dari mereka kita bukan hanya belajar tentang mengeja kasih sayang, tapi juga merasakan betapa hangatnya kasih sayang itu sendiri.

Leave a Reply