comment 0

Memasuki Pasar yang Terlanjur Ramai

Ada sebuah pertanyaan yang banyak kami dengar ketika menceritakan salah satu produk terbaru kami di Badr Interactive: Teman Bisnis. Mereka bertanya “aplikasi pencatatan keuangan bukannya sudah banyak ya ada di pasaran?”

Di awal, pertanyaan seperti ini sempat membuat kami berpikir bahkan bimbang, apakah keputusan memasuki sebuah market yang memang besar, tapi sudah banyak pemain yang ada di sana adalah keputusan yang tepat. Kami memang belum mampu menjawabnya secara pasti hingga kini karena tuk menjawab itu kami perlu bukti, dan kami sedang menitinya.

Tapi satu hal yang membuat kami tetap terus ingin melangkah dan termotivasi melakukannya adalah melihat kenyataan bahwa permasalahan kualitas pengelolaan UKM kita yang ingin diselesaikan dengan hadirnya Teman Bisnis, ternyata saat ini masih nyata dan massive ada di kehidupan para UKM.

Teman Bisnis hadir dari sebuah keinginan kami tuk membuat lebih banyak UKM yang mampu naik kelas dengan cepat, pilihan kami jatuh dengan keputusan masuk menjadi “habit builder” bagi para UKM tuk menjadi lebih disiplin dan berwawasan soal pengelolaan usaha tertutama keuangan, sebelum masuk ke pemodalan, pasar, dan pendampingan.

Squad Teman Bisnis

Seperti sebuah keniscayaan, pasar yang ramai akan diisi juga oleh ramainya pemain yang juga berlomba dalam kebaikan bersama dengan kita. Sebuah keniscayaan pula akan muncul keraguan apakah kami sudah cukup kuat dan tangguh tuk menghadapi kerasnya kompetisi di lapangan nyata.

Namun kamipun juga paham bahwa market, terlebih faktor market yang masih minim kompetisi bukanlah satu-satunya variabel yang menentukan sukses tidaknya sebuah produk atau perusahaan. Ada tak berhingga faktor yang selain spesial, jug sulit terprediksi yang mempengaruhi mampu melesat atau tidaknya sebuah produk. Memasuki sebuah market yang telah ramai bukanlah mutlak tindakan yang tidak bijak, menurut saya pribadi, yang tidak bijak adalah masuk ke market yang ramai tapi tanpa strategi, senjata, dan perlindungan.

Stimulus Kebaikan dari sebuah kompetisi

Salah satu keuntungan memasuki pasar yang sudah ramai adalah, besar dan potensi dari market tersebut yang sudah tervalidasi. Plus aspek edukasi untuk pengenalan produk kita yang relatif lebih mudah dan minim. Berbeda dengan menggarap pasar baru, ketika belum ada satupun kompetitor di sana belum tentu itu adalah pertanda bagus, bisa jadi itu adalah indikasi bahwa pasar tersebut tidak menarik untuk digarap.

Pengalaman iGrow di fase awal perjalanannya benar-benar merepresentasi hal ini. Dulu tahun 2014 ketika iGrow didirikan, belum ada pemain peer to peer lending platform di dunia pertanian yang telah muncul. Semua orang berpikiran yang sama, pasar pertanian memang besar dan menjanjikan, tapi terlalu beresiko untuk dimasuki.

Hingga setelah beberapa lama iGrow alhamdulillah dapat mem-validasi bisnis modelnya dan menunjukkan traction yang bagus, baru menciptakan daya tarik di pasar ini. Dan ternyata seiring dengan semakin banyaknya peer to peer lending di dunia pertanian juga menjadi keuntungan, di sana akhirnya tercipta peer preassure yang membuat kita tidak boleh bersantai hanya karena kita yang paling berpengalaman. Justru kompetisi dan terus mencari strategi baru yang bekerja dan value yang semakin kuat adalah sebuah keharusan pada kondisi saat ini.

Beberapa inovasi iGrow baru-baru ini seperti mencoba teknik penanaman modern yang padat modal namun optimal dari value seperti pembangunan proyek greenhouse raksasa di Pangalengan, atau masuk ke pasar tanaman energi, yang belum dimasuki oleh banyak pemain adalah bagian dari terus menyesuaikan dan bergeraknya kami ke depan.

Produksi Tomat Cherry yang ditanam di Greenhouse mitra iGrow di daerah Pangalengan

Menurut saya tidak ada yang salah dengan kompetisi yang telah berlangsung di sebuah pasar, asalkan strategi yang dipakai untuk berkompetisi bukanlah strategi yang kontraproduktif terhadap perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam bukunya Zero to One, Peter Thiel memang memberikan kritik pada kompetisi, tapi kompetisi kontra produktif yang dimaksud di sana adalah kompetisi yang saling membunuh dengan perang harga, saling terobsesi meniru sehingga teralihkan dari masih banyaknya strategi baru yang bisa ditemukan, dan juga saling menyerang dan memata-matai.

Menjadi tidak produktif karena fokus kita lebih pada mengalahkan kompetitor, alih-alih menciptakan produk terbaik yang semakin dicinta pengguna. Kompetisi sehat bukanlah tentang perang harga yang akhirnya saling menyakiti dan mengecilkan apa yang kan didapat, tapi perjalan membuat dan menawarkan value terbaik, yang dengan value tersebut pengguna kita merasa mengeluarkan sejumlah biaya bukanlah perkara berat karena value yang kita berikan jauh lebih tinggi dari biaya yang mereka perlukan.

Tak mengapa masuk ke market yang sudah ramai, asalkan sebagaimana layaknya kita memasuki medan perang, kita telah bekali diri kita dengan senjata dan strategi.

Selalu ada ruang untuk Pembaharu

Sudah banyak contoh yang menjadi inspirasi bagi kita, bahwa selalu ada ruang bagi pemain baru di pasar yang telah padat terisi.

Kita semua tahu tak berhingganya rumah makan dengan jenis dan varian yang ada, termasuk warung mie dan roti bakar. Tapi tetiba ada rumah makan berkonsep gaul bernama Warunk Upnormal mampu merangsek ke permukaan dengan cepat. Menawarkan konsep baru dan memenuhi kebutuhan kaum muda seperti colokan dan wifi cepat, akhirnya value tersebut disukai masyarakat.

Di bidang teknologi, dulu sebagian dari kita mungkin sempat skeptis ketika pertama kali mengenal Typeform, sebuah online survey generator. Sudah ada Google Form, Survey Monkey dan tak terhitung generator survey online yang telah ada plus kita sudah cukup puas dan terpenuhi kebutuhannya. Tapi dengan strategi mengedepankan UX yang luar biasa, Typeform ternyata bisa dengan cepat tersebar dan dikenal orang, menjadi salah satu pemain utama dalam pasar penyedia online survey generator.

Satu lagi contoh, Shake Shack, sebuah gerai fast food yang menjual Cheese Burger di taman New York, sekarang sudah go public dengan valuasi lebih dari 21 triliun rupiah. Membuat gerai fast food bukanlah langkah yang menarik dan unik, karena kalau kita lihat sudah banyak sekali rumah makan fast food telah berdiri dan memiliki jejaring yang luar biasa. Tapi Shake Shack datang dengan membawa strategi pembeda, mereka ingin membuat burger terbaik dengan pelayanan teramah. Bahan baku burger harus yang fresh, resep yang enak dan juga keramahan dari pramusaji. Resep seserhana itu ternyata jadi value yang menarik untuk dibeli oleh masyarakat.

Value Prop Shake Shack : bahan fresh dan asli, human experience yang delightful, dan story yang kuat

Dunia dan seisinya dalam kehidupan kita adalah materi yang dinamis bergerak, perubahan adalah sebuah kenyataan. Dan dalam setiap perubahan selalu ada kesempatan baru yang bisa diambil dan dioptimalkan.

Selalu ada ruang kesempatan bagi pemain baru di pasar yang sudah terbentuk untuk mereka yang mau masuk dan bersusah dengan strategi dan cara yang berbeda. Dan bukankah perbaikan di satu sisi yang datang dari sebuah strategi dan cara baru itulah yang menciptakan perbaikan kecil, yang menstimulus perbaikan lebih besar, yang akhirnya berkontribusi pada perbaikan masyarakat yang lebih luas.

Jika kita yakin bisa menawarkan value yang worth untuk diberikan pada pasar, janganlah kita terlanjur menciut duluan tuk berani masuk. Yang lebih perlu ditakutkan justru apakah kita sanggup tuk benar-benar menghasilkan, mendeliver, dan menjaga value tersebut tuk benar-benar menjadi produk yang lekat dan dicinta, karena di situlah keunggulan terkuat berada.

Saat ini tim Teman Bisnis sedang berjuang mencari cara yang bekerja tuk mampu mendeliver value yang diyakini bisa membawa perbaikan atas solusi yang telah ada saat ini, produk teknologi pencatatan keuangan yang mudah sekali digunakan dan juga terjangkau untuk UKM kelas mikro dan kecil sekalipun. Mohon doanya semoga tetap istiqomah dan senantiasa diberkan petunjuk oleh Yang Maha Memberi Hikmah :)

Leave a Reply