senjaya.net

Jay's Life Journal

Melihat Mereka yang Bebannya Lebih Berat

June 16th, 2012

Suatu malam di sebuah busway. Penumpang tidak terlalu padat, kebanyakan berisi para pekerja atau karyawan kantor dengan wajah yang penat dan lelah. Bersandar, tertidur, sekedar memandangi jalan Jakarta yang mulai berdamai dengan malam, atau berbincang ringan dengan rekan seperjalanannya. Suasana busway sepi, hanya ada beberapa gumaman obrolan pelan khas orang dewasa terdengar. Masuk seorang ayah dan anaknya di sebuah halte, mereka duduk dan perjalanan berlanjut. Di sepanjang perjalanan sang anak mulai berceloteh riang dengan ayahnya, ramai sekali hingga suara-suara dalam busway tenggelam oleh kicau riang anak tersebut. Tak hanya celoteh, ia mulai berlari-lari bermain, kesana-kesini di dalam busway menikmati ruang cukup luang yang ada sambil tetap berceloteh riang.

Seorang bapak separuh baya, tampak dari penampilannya baru saja pulang kerja yang sedang beristirahat, sontak terganggu dengan suara anak tersebut. Tanpa perlu waktu lama ia segera berujar kepada bapak anak tersebut dengan suara cukup tinggi dari tempat duduknya ke arah tempat duduk bapak sang anak.

“ Pak, bisa didik anak ga sih? Saya sudah capek seharian kerja, berangkat pagi pulang malam dalam keadaan sangat lelah, di kantor saya banyak masalah, dan di sini ternyata saya masih juga mendapat masalah dari anak bapak, saya ingin istirahat, tapi anak bapak ini berisik sekali sehingga membuat saya tidak bisa istirahat, saya bisa stress kalau seperti ini” Ujar bapak separuh baya. Suasana bus mendadak sepi beberapa saat oleh suara tinggi sang bapak separuh baya.

Bapak sang anak hanya tersenyum, kemudian dengan lembut dia berujar.

“mohon maaf pak, mohon maaf untuk semua yang ada di sini, untuk sekali ini saja saya minta ijin kepada bapak dan semua yang ada di sini untuk membiarkan anak saya bermain. Ibunya baru saja meninggal hari ini. Dan saya kehabisan uang untuk sekedar naik taksi sehingga terpaksa naik busway. Jadi saya mohon biarkan anak ini menikmati keriangannya malam ini sebelum hari-hari beratnya esok.”

Sontak suasana busway tiba-tiba sepi tanpa suara medengar itu. Hanya ada celoteh seorang anak kecil berumur 3 tahun yang masih sangat riang bermain. Mata sang bapak separuh baya yang tadi merah padam langsung berkaca-kaca, ia menunduk, kemudian memanggil sang anak mengelus kepalanya dan mengajaknya bermain bersama.

Dalam kehidupan, kita sangat sering sekali, merasa dan yakin, bahwa ujian, beban, dan cobaan yang kita terima dalam hidup adalah ujian, beban, dan cobaan terberat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Kita mudah meraung, putus asa, mengeluh, dan marah oleh berbagai beban dalam hidup yang kita miliki dan lupa bersyukur. Padahal jika kita mau membuka mata sedikit, di sekitar kita saja, masih sangat banyak orang yang beban hidupnya jauh melebihi kita.

Sang bapak separuh baya dengan berbagai macam masalah di kantornya merasa bahwa hidupnya adalah yang paling berat sehingga merasa perlu mendapat pengertian dari orang-orang. Padahal beban yang dihadapi sang bocah 3 tahun di depannya beserta ayahnya jauh lebih berat darinya. Perasaan paling menderita dan terbebani, kadang bisa menjadi tabir tertutupnya mata kita untuk bisa melihat semuanya lebih dalam dan jernih.

Melihat disekitar kita, mencoba mengetahui dan merasa bahwa tidak hanya kita yang sedang berjuang menerjang ombak kehidupan, dan ternyata, masih banyak yang ombaknya jauh lebih besar dari kita akan membuat kita tersadar, kita hidup lebih banyak mengeluh dan sombong daripada bersyukur. Tidak ada yang bisa menjamin cobaan yang kita hadapi saat ini lebih besar daripada cobaan seorang anak 3 tahun. Ketika kita gagal dalam karir, kuliah, hubungan dengan kerabat, finansial, kesehatan, atau berbagai macam dinamika hidup, mari kita bayangkan mereka yang sudah sejak lama hidup bersama keterbatasan dan ujian hidup yang sangat luar biasa bahkan sejak mereka dilahirkan.

Membuka mata dan mencoba bersyukur terhadap apa yang kita miliki saat ini dengan melihat ke bawah, adalah salah satu cara menekan nafsu kita untuk cepat bertanya-tanya tentang beban yang dirasa, cepat merasa paling menderita dalam hidup, atau mencoba mendapat simpati. Bersabar tidak cepat putus asa menghadapi cobaan, beryukur terhadap satuan terkecil pemberian Allah pada kita, modal seorang Muslim untuk menerjang ombak kehidupan, besar kecilnya bukan persoalan, tapi bagaimana cara kita mengarungi ombak kehidupan tersebut dan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah. Simpati dan iba manusia atas beratnya beban atau cobaan yang menimpa kita bukanlah penyembuh, penyembuh adalah membuktikan dengan perbuatan, seberat apapun beban, kita bisa semakin setia dan dekat pada Allah.

Tetap tersenyum dalam beban dan cobaan, biarkan orang melihat kita sebagai hamba yang seolah dari rona wajah nya tidak pernah tergurat sedikitpun bekas-bekas frustasi atas beban-beban hidupnya.

Aku akan Menjadi Besar untuk Membawamu ke Tanah Suci Mama

June 12th, 2012
Tulisan ini saya persembahkan kepada ibu saya, wanita yang saya tidak tahu, dengan apa Allah mengisi hatinya sehingga saya merasakan cinta dan ketulusan di setiap gerak geriknya pada anaknya ini.


Mama, begitu saya memanggilnya, saat ini secara fisik sudah jauh berbeda saat saya masih duduk di bangku sekolah, atau bahkan saat satu tahun yang lalu. Stoke yang dialaminya sejak beberapa bulan lalu karena penyakit darah tinggi yang telah lama dideritanya membuat beberapa kemampuan motorik yang dimilikinya jauh berkurang. Saat ini Mama tidak bisa lagi berjalan dengan gagah, walaupun tanpa tongkat, tapi kemampuan berjalannya jauh berkurang dibandingkan dulu, kemampuan menggenggam dan meremas dengan tangan berkurang, dan suaranya tak setegas dulu. Tapi ternyata perubahan-perubahan itu sama sekali tak ada artinya jika dibanding dengan banyak hal yang tak berubah dan bahkan bertambah kuat saat ini: cinta dan ketulusan,,, dua hal yang tak perlu sinyal fisik tuk mengungkapkannya, yang terasa dalam komunikasi hati, antara dia dengan anaknya.


Cinta dan ketulusan, yang setiap kali saya menjejakkan kaki di rumah, selalu terasa dalam bahasa verbal dan nonverbalnya. Mama selalu menjadi orang yang membukakan pintu pertama saat saya pulang selarut apa saya pulang setelah tumpukan aktivitas di Depok, Ia seolah selalu punya sisa kekuatan tuk menyambut anaknya ini. Tidak pernah sekalipun ia tidak segera bergegas menuju dapur, membuat segelas teh hangat untuk anaknya ini, dengan jalan yang tergopoh dan terkadang ada beberapa bagian teh di dalam gelas yang tumpah karena tidak seimbangnya kemampuan menggenggam Mama, tapi ia selalu menolak saat saya mencegah atau bergerak sigap mencoba mengambil alih gelas dalam genggamannya. Mama selalu selesai meletakkannya di meja kamar saya, dan memperhatikan saya yang menyantap teh dengan campuran bahan dasar cinta itu.


Kadang kalau saya pulang dengan keadaan lusuh dan lapar, ia seakan tanpa perlu mengeluarkan sinyal apapun segera membuatkan tempe goreng asin kering, makanan favorit saya, di saat itu juga. Tak bisa dilarang dan dicegah, saya akhirnya hanya bisa menemaninya memasak di dapur sambil menahan haru akan keinginannya untuk bisa mengungkapkan rasa sayang kepada anaknya ini dengan berbagai macam hal yang bisa ia lakukan dan berikan pada anaknya. Dan ia tidak akan beranjak sebelum saya melahap karya ciptanya yang selalu saja tidak pernah tidak enak di lidah ini.


Untuk membuat Mama mengeluarkan gurat senyumnya, ia tak pernah meminta apapun, gurat senyumnya selalu terukir hanya dengan keluangan waktu anaknya mendengarkan berbagai ceritanya, atau saat ia mendengarkan kisah perjalanan anaknya di Depok, atau mendengarkan berbagai mimpi dan rencana anaknya, yang saya yakin Mama tidak paham sepenuhnya dengan mimpi-mimpi saya, tapi ia tak pernah menunjukkan ekspresi lain kecuali, senyum dukungan yang seoalah senantiasa menciptakan sejuta energi bagi saya.


Cinta dan ketulusan, yang entah dari mana tidak pernah habis keluar dan memenuhi ruang hatinya. Allah tempatkanlah Ia di tempat yang utama di sisi-Mu dengan ridha dari-Mu.


Cerita berlanjut, hingga di suatu malam saya teringat, salah satu mimpi terbesar saya, bisa mengajak Mama pergi ke tanah suci bersama. Hingga saat ini saat saya mengatakan tentang mimpi saya ini kepadanya, ia hanya tersenyum dan berkata dengan nada datar “aamiin..”. Saya langsung bisa menangkap bahwa Mama pasti merasa kondisi fisiknya saat ini akan membuatnya sangat kesulitan ketika harus melaksanakan berbagai ritual ibadah dalam umrah / haji.  Saat itu juga tertanam keinginan kuat dalam hati saya, “kita suatu saat akan bisa ke tanah suci bersama Ma, saat Mama bisa melihat secara langsung ka’bah, dan Mama akan bisa melakukannya biarpun harus berada di atas gendongan anaknya ini.”


Bertambahlah satu mimpi saya, membawa Mama dalam gendongan saya di tanah suci nanti. Bila saat ini berat badan saya hanya lebih berat 15 kg dari ibu saya, untuk membuat Mama nyaman dan tidak melihat ekspresi menahan lelah dari anaknya ini, maka harus ada peningkatan berat badan segera. Yak, aku akan menjadi besar untuk membawamu ke tanah suci Mama, saatnya bersemangat makan dan olah raga banyak, setidaknya kalau target ini tidak tercapai, saya akan menjadi pendamping setia Mama di kursi rodanya :)