Suatu malam di sebuah busway. Penumpang tidak terlalu padat, kebanyakan berisi para pekerja atau karyawan kantor dengan wajah yang penat dan lelah. Bersandar, tertidur, sekedar memandangi jalan Jakarta yang mulai berdamai dengan malam, atau berbincang ringan dengan rekan seperjalanannya. Suasana busway sepi, hanya ada beberapa gumaman obrolan pelan khas orang dewasa terdengar. Masuk seorang ayah dan anaknya di sebuah halte, mereka duduk dan perjalanan berlanjut. Di sepanjang perjalanan sang anak mulai berceloteh riang dengan ayahnya, ramai sekali hingga suara-suara dalam busway tenggelam oleh kicau riang anak tersebut. Tak hanya celoteh, ia mulai berlari-lari bermain, kesana-kesini di dalam busway menikmati ruang cukup luang yang ada sambil tetap berceloteh riang.
Seorang bapak separuh baya, tampak dari penampilannya baru saja pulang kerja yang sedang beristirahat, sontak terganggu dengan suara anak tersebut. Tanpa perlu waktu lama ia segera berujar kepada bapak anak tersebut dengan suara cukup tinggi dari tempat duduknya ke arah tempat duduk bapak sang anak.
“ Pak, bisa didik anak ga sih? Saya sudah capek seharian kerja, berangkat pagi pulang malam dalam keadaan sangat lelah, di kantor saya banyak masalah, dan di sini ternyata saya masih juga mendapat masalah dari anak bapak, saya ingin istirahat, tapi anak bapak ini berisik sekali sehingga membuat saya tidak bisa istirahat, saya bisa stress kalau seperti ini” Ujar bapak separuh baya. Suasana bus mendadak sepi beberapa saat oleh suara tinggi sang bapak separuh baya.
Bapak sang anak hanya tersenyum, kemudian dengan lembut dia berujar.
“mohon maaf pak, mohon maaf untuk semua yang ada di sini, untuk sekali ini saja saya minta ijin kepada bapak dan semua yang ada di sini untuk membiarkan anak saya bermain. Ibunya baru saja meninggal hari ini. Dan saya kehabisan uang untuk sekedar naik taksi sehingga terpaksa naik busway. Jadi saya mohon biarkan anak ini menikmati keriangannya malam ini sebelum hari-hari beratnya esok.”
Sontak suasana busway tiba-tiba sepi tanpa suara medengar itu. Hanya ada celoteh seorang anak kecil berumur 3 tahun yang masih sangat riang bermain. Mata sang bapak separuh baya yang tadi merah padam langsung berkaca-kaca, ia menunduk, kemudian memanggil sang anak mengelus kepalanya dan mengajaknya bermain bersama.
Dalam kehidupan, kita sangat sering sekali, merasa dan yakin, bahwa ujian, beban, dan cobaan yang kita terima dalam hidup adalah ujian, beban, dan cobaan terberat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Kita mudah meraung, putus asa, mengeluh, dan marah oleh berbagai beban dalam hidup yang kita miliki dan lupa bersyukur. Padahal jika kita mau membuka mata sedikit, di sekitar kita saja, masih sangat banyak orang yang beban hidupnya jauh melebihi kita.
Sang bapak separuh baya dengan berbagai macam masalah di kantornya merasa bahwa hidupnya adalah yang paling berat sehingga merasa perlu mendapat pengertian dari orang-orang. Padahal beban yang dihadapi sang bocah 3 tahun di depannya beserta ayahnya jauh lebih berat darinya. Perasaan paling menderita dan terbebani, kadang bisa menjadi tabir tertutupnya mata kita untuk bisa melihat semuanya lebih dalam dan jernih.
Melihat disekitar kita, mencoba mengetahui dan merasa bahwa tidak hanya kita yang sedang berjuang menerjang ombak kehidupan, dan ternyata, masih banyak yang ombaknya jauh lebih besar dari kita akan membuat kita tersadar, kita hidup lebih banyak mengeluh dan sombong daripada bersyukur. Tidak ada yang bisa menjamin cobaan yang kita hadapi saat ini lebih besar daripada cobaan seorang anak 3 tahun. Ketika kita gagal dalam karir, kuliah, hubungan dengan kerabat, finansial, kesehatan, atau berbagai macam dinamika hidup, mari kita bayangkan mereka yang sudah sejak lama hidup bersama keterbatasan dan ujian hidup yang sangat luar biasa bahkan sejak mereka dilahirkan.
Membuka mata dan mencoba bersyukur terhadap apa yang kita miliki saat ini dengan melihat ke bawah, adalah salah satu cara menekan nafsu kita untuk cepat bertanya-tanya tentang beban yang dirasa, cepat merasa paling menderita dalam hidup, atau mencoba mendapat simpati. Bersabar tidak cepat putus asa menghadapi cobaan, beryukur terhadap satuan terkecil pemberian Allah pada kita, modal seorang Muslim untuk menerjang ombak kehidupan, besar kecilnya bukan persoalan, tapi bagaimana cara kita mengarungi ombak kehidupan tersebut dan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah. Simpati dan iba manusia atas beratnya beban atau cobaan yang menimpa kita bukanlah penyembuh, penyembuh adalah membuktikan dengan perbuatan, seberat apapun beban, kita bisa semakin setia dan dekat pada Allah.
Tetap tersenyum dalam beban dan cobaan, biarkan orang melihat kita sebagai hamba yang seolah dari rona wajah nya tidak pernah tergurat sedikitpun bekas-bekas frustasi atas beban-beban hidupnya.




