senjaya.net

Jay's Life Journal

Posisi dan Jabatan Bukanlah Kemuliaan…

August 13th, 2011

Pasca Perkenalan Lembaga OKK UI 2011. Setelah refleksi singkat, saya mendapat sebuah insight yang ingin dibagi di sini.

DI acara ini, kami para ketua lembaga kemahasiswaan yang ada di UI akan diperkenalkan satu persatu, kami mendapat panggung tersendiri untuk berkenalan, berorasi, dan memotivasi MABA 2011. Panggung ini adalah panggung yang sangat strategis, berdisi di hadapan ribuan MABA 2011 dan kita menjadi sorotan mereka di pusat stage itu.

Semua tatapan mata yang mengarah, decak kagum yang terlontar, atau tepuk2 tangan yang membahana ketika kami memperkenalkan diri sebagai ketua sebuah lembaga benar2 sebuah godaan. Godaan merasa terhormat mulia, godaan riya, godaan hilangnya keikhlasan, dan godaan hilangnya arah niat kita di awal. Itulah fitnah dari sebuah pusat perhatian.

Dengan posisi dan jabatan, orang lain memang akan memandang diri ‘lebih’ dibanding orang lain. Kita melihat jabatan dan posisi sebagai sebuah kemuliaan dan keutamaan sosok manusia di dunia tapi pernahkah kita sadar bahwa jabatan dan posisi yang tidak jarang dapat menjatuhkan kita dengan mudah kedalam jurang kesombongan dan keangkuhan.

Saat diri ini mencoba melihat lagi lebih dalam, tersadar apa sebenarnya yang dapat dibanggakan dan apa sebenarnya yang orang lain lihat lebih mulia dari yang lain, karena yang justru kulihat adalah tumpukan dosa dan tak terhitung kemaksiatan di dalam sini. Posisi dan jabatan bisa menjadi sebuah topeng pemancar kemuliaan, yang membuat orang yang melihatnya terpana dan berdecak kagum, padahal posisi dan jabatan merupakan sebuah pedang yang dapat menebas leher kita dengan mudah. Suatu saat posisi dan jabatan itulah yang akan membuat kita dihisab lebih lama di akhirat, setiap jengkal amanah yang kita lalaikan dipertanyakan, tiap kedzaliman yang kita biarkan ditagih, dan tiap keputusan kita kan kita pertanggungjawabkan.

Posisi dan jabatan, sebuah buah berkulit indah menarik, tapi dagingnya pahit dan getir ketika ia matang dan dipetik dalam kepentingan kekuasaan semata. Tapi ia bisa menjelma menjadi buah sempurna yang dapat memaskan dahaga dan menyokong nutrisi kala ia matang dalam kesadaran akan tanggung jawab dan tugas yang diemban dibalik indah dan menarik kulitnya.

Dalam menulis refleksi ini saya berdenyit, keringan mengalir, dan tangan bergetar menekan tuts keyboard, membayangkan berapa banyak tindakan diri yang penuh kelalaian ini harus dipertanggungjawabkan, dipertanyakan, dan dijatuhi penghakiman maha adil satu demi satu tak terlewat sedikitpun. Mereka yang mungkin tidak mulia di dunia dapat melenggang dengan ringan dan cepatnya memasuki syurga dengan senyum merekah dan saya terdiam menunggu selesainya deretan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Seorang imam adalah pemimpin, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Seorang suami adalah pemimpin,  dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. (HR Bukhari)

Jabatan dan posisi bukanlah kemuliaan, ia adalah tambahan deretan pertanyaan dan catatan pertanggungjawaban yang kita akan tanggung di akhirat kelak.

Hai, Namaku Andreas…

August 4th, 2011

Tak terhitung berapa banyak orang yang bertanya tentang nama saya, demikian juga tak terhitung yang salah menerka siapa sosok sesungguhnya di balik tampilan fisik diri ini. Semuanya pernah saya rasa, dari mulai rasa bertanya-tanya, protes, bahkan syukur atas nama ini…

Ekspresi heran dan tak percaya sudah hampir saya dapatkan ketika orang-orang mendapati saya merupakan sosok seorang Muslim. Yap, dengan nama depan Andreas dan perawakan yang sangat identik dengan ras Tionghoa sudah lebih dari cukup bagi orang-orang untuk membuat kesimpulan awal siapa saya. Oh tapi tenang, kalau situasi seperi ini sih sudah sangat biasa dan tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap saya. Dalam tulisan kali ini saya ingin menceritakan sekilas tentang saya dan nama serta perawakan saya ini.

Masih berbekas dengan jelas dulu waktu kecil saya sering dikucilkan, dicibir, dan dipandang berbeda oleh teman2 sebaya saat melangkah ke tempat ngaji rutin harian saya atau mesjid dekat rumah kala saya masih duduk di bangku SD. Tak jarang juga yang menyeletuk kata “cina” ketika bertemu dengan saya (maklum dulu anak kecil etnis Cina yg hidup di tengah masyarakat pribumi memang sering jadi guyonan anak2 kecil). Kalau sekarang tampang saya sudah tak terlalu ketara dari ras Tionghoa karena sering terkena terik dan debu, kalau waktu saya kecil sudah tak ada ras lagi yg bisa diidentikan selain cina karena perawakan fisik saya yg masih berkulit putih dan bermata sangat sipit hehe… Tapi lama kelamaan telinga ini kebal juga dengan cibiran2 seperti itu yg sering muncul hingga saya lulus bangku SD.

Masih berbekas dengan jelas dulu kala beranjak dewasa saya sering tidak dipercaya merupakan seorang muslim dari nama depan saya. Sering juga yang mengira bahwa nama Andreas adalah nama baptis saya (hehe :p) baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pertanyaan “Oh kamu Islam toh?” atau “kamu mualaf ya?” hampir pasti terlontar bagi orang-orang yang penasaran dengan nama saya.

Dua hal di atas sebenarnya tidaklah begitu penting bagi saya, tapi ada satu hal yang sejak dulu selalu terlintas dalam benak saya,,,yaitu iri. Rasa iri terhadap teman-teman yang memiliki nama yang indah, baik, punya arti di balik rangkaiannya, dan tentunya tidak menimbulkan salah interpetasi.

Ada sesuatu yang menyesakkan kala meresapi perkataan Nabi Muhammad bahwa nama adalah doa bagi kita, atau ada yang menghujam ketika meyakini kalimat nama adalah doa pertama orang tua bagi kita, atau kala membaca hadits ini,

Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR.Aththusi).

Sempat beberapa kesempatan saya memerlukan momen untuk beristighfar karena sering mempertanyakan nama pemberian orang tua saya ini. Astagfirullah,, ya Allah maafkanlah hamba-Mu ini…

Tapi saya selalu menyadari selalu ada hikmah di balik semua yang terjadi dalam hidup kita kala kita melihatnya dengan kaca mata syukur. Selalu ada sisi positif yang bisa menjadikan paras kita selalu bisa tersenyum dan bisa menerima semua keadaan kita apa adanya.

Kadang saya mengucap syukur karena dengan nama dan perawakan ini saya bisa masuk dan cair dengan orang-orang dari golongan Tionghoa dan bisa menyampaikan nilai2 keindahan Islam kepada mereka, bisa juga dapat potongan harga yang tinggi kalau berbelanja di Glodok, atau tidak memerlukan pemeriksaan berlapis ketika berkunjung ke negara2 yang sangat waspada terhadap seorang muslim yang masuk ke negaranya.

Saya juga bersyukur, ketika orang lain menilai keislaman saya bukan dari nama saya, latar belakang keluarga saya, atau paras fisik saya. Tapi melihatnya dari perilaku dan substansi ke-Islaman lainnya yang saya tunjukkan.

Selalu ada hal yang bisa membuat kita tetap bisa tersenyum lepas dan merasakan indahnya hidup kala kita memandang segala sesuatu dari kaca mata syukur..

O ya mengenai arti dari nama Andreas itu sendiri sebenarnya saat saya tanyakan kepada orang tua sya mereka juga tidak bisa menjawab karena nama itu merupakan nama yang direkomendasikan oleh nenek saya. Jadi bila ditanya apa arti nama saya, saya sering bingung mendeskripsikannya, mungkin hanya bisa mengartikan kata senjaya yang merupakan kependekan dari dua kata senja (waktu lahir saya) dan jaya (agar bisa jadi jaya dan sukses).

Cukup terharu juga saat saya pernah menceritakan bagaimana pengalaman2 buruk saya dikucilkan dan dicibir di masa kecil karena perawakan dan nama saya, Sani teman sekamar saya memberi arti yang dia ciptakan sendiri untuk kata Andreas, yang artinya keikhlasan dan kesabaran.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers