Pasca Perkenalan Lembaga OKK UI 2011. Setelah refleksi singkat, saya mendapat sebuah insight yang ingin dibagi di sini.
DI acara ini, kami para ketua lembaga kemahasiswaan yang ada di UI akan diperkenalkan satu persatu, kami mendapat panggung tersendiri untuk berkenalan, berorasi, dan memotivasi MABA 2011. Panggung ini adalah panggung yang sangat strategis, berdisi di hadapan ribuan MABA 2011 dan kita menjadi sorotan mereka di pusat stage itu.
Semua tatapan mata yang mengarah, decak kagum yang terlontar, atau tepuk2 tangan yang membahana ketika kami memperkenalkan diri sebagai ketua sebuah lembaga benar2 sebuah godaan. Godaan merasa terhormat mulia, godaan riya, godaan hilangnya keikhlasan, dan godaan hilangnya arah niat kita di awal. Itulah fitnah dari sebuah pusat perhatian.
Dengan posisi dan jabatan, orang lain memang akan memandang diri ‘lebih’ dibanding orang lain. Kita melihat jabatan dan posisi sebagai sebuah kemuliaan dan keutamaan sosok manusia di dunia tapi pernahkah kita sadar bahwa jabatan dan posisi yang tidak jarang dapat menjatuhkan kita dengan mudah kedalam jurang kesombongan dan keangkuhan.
Saat diri ini mencoba melihat lagi lebih dalam, tersadar apa sebenarnya yang dapat dibanggakan dan apa sebenarnya yang orang lain lihat lebih mulia dari yang lain, karena yang justru kulihat adalah tumpukan dosa dan tak terhitung kemaksiatan di dalam sini. Posisi dan jabatan bisa menjadi sebuah topeng pemancar kemuliaan, yang membuat orang yang melihatnya terpana dan berdecak kagum, padahal posisi dan jabatan merupakan sebuah pedang yang dapat menebas leher kita dengan mudah. Suatu saat posisi dan jabatan itulah yang akan membuat kita dihisab lebih lama di akhirat, setiap jengkal amanah yang kita lalaikan dipertanyakan, tiap kedzaliman yang kita biarkan ditagih, dan tiap keputusan kita kan kita pertanggungjawabkan.
Posisi dan jabatan, sebuah buah berkulit indah menarik, tapi dagingnya pahit dan getir ketika ia matang dan dipetik dalam kepentingan kekuasaan semata. Tapi ia bisa menjelma menjadi buah sempurna yang dapat memaskan dahaga dan menyokong nutrisi kala ia matang dalam kesadaran akan tanggung jawab dan tugas yang diemban dibalik indah dan menarik kulitnya.
Dalam menulis refleksi ini saya berdenyit, keringan mengalir, dan tangan bergetar menekan tuts keyboard, membayangkan berapa banyak tindakan diri yang penuh kelalaian ini harus dipertanggungjawabkan, dipertanyakan, dan dijatuhi penghakiman maha adil satu demi satu tak terlewat sedikitpun. Mereka yang mungkin tidak mulia di dunia dapat melenggang dengan ringan dan cepatnya memasuki syurga dengan senyum merekah dan saya terdiam menunggu selesainya deretan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Seorang imam adalah pemimpin, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Seorang suami adalah pemimpin, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. (HR Bukhari)
Jabatan dan posisi bukanlah kemuliaan, ia adalah tambahan deretan pertanyaan dan catatan pertanggungjawaban yang kita akan tanggung di akhirat kelak.





