Cara terbaik untuk melatih kepekaan kita ada memaksa diri untuk peduli dan terjun menjadi pelayan bagi orang lain. Itulah yang saya rasakan beberapa waktu ini dengan aktivitas sekarang. Amanah yang diemban oleh saya saat ini membuat diri ini harus menceburkan diri ini dalam kepekaan yang begitu tinggi. Amanah ini memaksa diri ini untuk melangkahkan kaki nyata untuk menjadi orang yang peduli dan mau menyelesaikan segala permasalahan, menanggap dan menjadi bagian dari solusi permasalahan.
senjaya.net
Jay's Life Journal
Monthly Archives: April 2011
Belajar Berdemokrasi dengan Kebebasan Pers Kampus
Kanselir Jerman pada tahun 1998-2005, Gerhard Schroeder, pernah berkata, “Demokrasi adalah sebuah hal yang mustahil tanpa adanya kebebasan pers karena kebebasan pers adalah dasar dari demokrasi. Kontroversi yang kompleks tidak akan bisa terpecahkan tanpa adanya kebebasan pers.” Pendapat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa peran dari kebebasan pers sangat penting bagi demokrasi, ia menjadi batu bata penyusun utama sebuah tembok bangunan demokrasi yang kokoh. Ia menjadi begitu penting karena kebebasan pers dalam demokrasi memiliki fungsi sebagai media informasi, investigasi, mobilisasi massa, pengawasan sosial, dan forum publik antara rakyat dengan penyelenggara pemerintahan yang berkuasa.
Kebebasan pers tidak hanya ada pada kegiatan jurnalistik di kehidupan sehari-hari masyarakat kita, tapi juga tumbuh dan berkembang di tempat proses produksi iron stock generasi pemimpin bangsa di masa depan, yaitu lingkungan perguruan tinggi atau lingkungan kampus. Kehidupan jurnalisme kampus selama ini tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin tumbuh dan berkembangnya kehidupan politik dan organisasi di dunia kampus. Jurnalisme kampus juga memiliki fungsi yang juga dimiliki oleh jurnalisme di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya terutama sebagai media informasi dan pengawasan sosial terhadap birokrat kampus atau lembaga perwakilan mahasiswa yang berkuasa.
Lingkungan kampus merupakan miniatur dari pemerintahan sebuah negara. Ia memiliki organ yang berperan sebagai penyelenggara pemerintahan, baik pemerintahaan birokrat kampus maupun pemerintahaan organisasi kemahasiswaan. Selain itu kampus juga memiliki organ yang berperan sebagai civil society yang menjadi objek langsung kebijakan pemerintah tersebut. Jurnalisme kampus dapat berperan dalam mediator penyalur informasi maupun sarana pengawasan antara kedua pihak tersebut. Fungsi ini yang akan membuat kehidupan demokrasi di lingkungan kampus menjadi lebih sehat, berwarna, dan hidup. Ketika kehidupan demokrasi di lingkungan kampus telah berjalan dengan baik maka lingkungan kampus secara tidak langsung akan menjadi sarana pembelajaran dan inkubator demokrasi yang efektif bagi para mahasiswa.
Keberadaan kebebasan pers yang terwujud dalam kegiatan jurnalisme di lingkungan kampus juga bisa menjadi sarana peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia yang matang dalam berdemokrasi. Kebebasan pers akan menjadi pemuas dahaga mahasiswa yang haus akan informasi yang hangat, terpercaya, dan memiliki kredibilitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka yang terbiasa hidup di lingkungan ilmiah yang tinggi tentunya sangat membutuhkan akses informasi seperti ini. Kebebasan pers juga akan membangun iklim pemikiran kritis bagi para mahasiswa terhadap berbagai fenomena dan permasalahan kekinian yang ada di kampusnya. Selain itu, kebebasan pers bisa menjadi sarana pembelajaran mahasiswa dalam mengemukakan pendapat dan pemikirannya. Semua manfaat itu secara tidak langsung akan dapat membentuk pribadi mahasiswa menjadi pribadi yang paripurna yang siap untuk menggantikan pemimpin-pemimpin Indonesia yang berkuasa saat ini.
Tentu saja dalam proses pembelajaran demokrasi ini, kehidupan jurnalisme kampus harus terbebas dari berbagai kepentingan. Integritas jurnalisme kampus menjadi hal yang utama yang perlu dipertahankan. Karakter mahasiswa yang memiliki idealisme tinggi dan independen harus juga tercermin dalam kehidupan jurnalistiknya. Begitu juga sebaliknya, jurnalisme kampus yang kredibel dan bebas dari berbagai kepentingan juga harus menjadi sarana pengawas integritas dan indepedensi dari mahasiswa.
MWA MWA, fasilitasmu takkan mengalihkan duniaku..
Wah sudah lama sekali ga nge-blog,,kali ini mungkin saya akan share tentang sebuah amanah sangat besar dalam kehidupan ini. Menjadi perwakilan para mahasiswa di forum tertinggi di UI yang penuh dengan tantangan dan godaan. Pada tulisan kali ini saya akan share mengenai fasilitas-fasilitas yang saya dapatkan setelah menduduki kursi panas ini.
Menjadi anggota MWA UI ibarat seperti menjadi anggota dewan. Kerjanya itu rapat, paripurna, dan audiensi. Di sana ada berbagai perwakilan golongan (kementrian, rector, karyawan, masyarakat, Senat Akademik, dan mahasiswa) dan ada di sana untuk membela kepentingan golongannya masing-masing.Tentu saja dialektika dan argumentasi menjadi senjata utama dalam proses perundingan pada rapat-rapatnya.
Yang cukup membuat diri ini banyak beristigfar adalah berbagai macam fasilitas yang diperoleh ketika mengikuti rapat-rapat MWA selama ini. Mulai dari masuk ruangan absensi peserta rapat, ketika tanda tangan setelah itu saya akan langsung diberikan uang perngganti transportasi. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 300 ribu rupiah untuk sekali rapat. Tapi itu tidak menjadi godaan besar karena saya sudah meniatkan bahwa setiap uang yang didapat dari hasil rapat-rapat di MWA akan masuk seluruhnya ke kas Badan Kelengkapan MWA UI UM untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Biasanya satu bulan minimal ada satu kali rapat, tapi bila sedang banyak program yang ditangani dua minggu bisa empat kali rapat.
Nah setelah masuk ruangan, kalau rapat dimulai dari jam-jam setelah makan siang, akan sudah tersedia kotak makanan yang ketika dibuka akan terlihat makanan yang untuk ukuran mahasiswa termasuk makanan yang cukup mewah. Yah minimal selalu ada daging dalam setiap sajian nasi kotak yang selalu diberikan. Biasanya setelah kita duduk akan ada bapak-bapak yang mengantarkan segelas air putih.
Tidak hanya sampai di sana, sajianpun dilanjutkan saat rapat berlangsung, dimulai dengan diantarkannya minuman yang kali ini bentuknya berwarna misalnya kopi, teh, atau sari lidah buaya. Setelah itu akan datang lagi cemilan, biasanya itu semacam kue subuh atau sepiring buah-buahan. MasyaAllah, mendapat perlakuan seperti itu saja saya sudah merasa “wah”, untuk ukuran saya ini berlebihan dan sangat tidak nyaman mendapatkan ini semua.
Saya hanya membayangkan bila seluruh dana untuk pembiayaan pengadaan rapat yang kira-kira mencapai kurang lebih 5 juta per rapat itu digunakan untuk memberikan bantuan bagi anak-anak jalanan di jalan margonda pasti akan sangat besar dampak yang bisa dihasilkan. Itu baru setingkat para pemangku kebijakan di tataran universitas, saya tidak membayangkan bagaimana bentuk fasilitas dan pelayanan yang didapat oleh para pejabat negara ini di sana dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya.
Saya saat ini hanya berdoa dalam setiap shalat malam yang saya lakukan, agar seluruh fasilitas yang saat ini diberikan karena posisi saya saat ini tidak mengikis kesadaran hakiki saya, bahwa saya ada di sini sebagai perwakilan mahasiswa. Saya adalah pelayan di sini yang mewakili para mahasiswa, kepentingan utama yang harus saya lakukan adalah menyampaikan suara dan aspirasi dari mahasiswa.
Mungkin suatu saat nanti di masa mendatang akan ada godaan serupa yang bahkan lebih tinggi dari sekarang, dan saya hanya bisa berharap diberi kekuatan dan ketahanan agar tidak terbuai oleh berbagai fasilitas yang disediakan. Tetap bertahan dalam jalan juang, karena kaya raya memang bukanlah cita-cita saya, cukuplah mandiri secara ekonomi sehingga bisa kokoh akan politik uang saat sudah bermain di tataran publik dan membuka lapangan pekerjaan kepada banyak keluarga Indonesia, amiin,,,



