Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan baru saat pulang ke Tangerang di akhir pekan yaitu di setiap ahad pagi saya selalu menyempatkan membersamai ibu di dapur. Susai shalat subuh dan mengaji saya selalu membersamainya untuk memasak dan menyiapkan makanan hingga semua makanan untuk kami sekeluarga hari itu rampung, biasanya memakan waktu dari jam 6 hingga jam 8 pagi.
Hari ahad memang senantiasa menjadi hari yang spesial bagi ibu saya. Karena di hari ahad saya biasanya ada di rumah sehingga ia selalu ingin memberikan makanan spesial hasil masakannya sendiri kepada saya. Namun kondisi ibu saya saat ini tidak sebaik dulu. Dulu ia adalah jagoan handal dalam hal memasak, pernah mendapat juara dalam lomba masak di Jakarta pada waktu muda dulu menjadi salah satu bukti kemampuannya. Namun setelah menderita stroke ringan karena hipertensi kemampuan motorik tubuh sebelah kiri membuat semua aktivitas yang dulu mudah seperti berjalan dan menggenggam sekarang menjadi sulit dan berkurang kecepatannya sekarang.
Nah saya biasanya berperan sebagai asisten pribadinya dalam memasak. Ibu saya akan menjadi instruktur dan evaluator sedangkan saya yang menjadi tangan dan kakinya. Saya yang mengambilkan bahan, menunbuk bumbu, mempersiapkan alat memasak, dan mengangkat peralatan dapur yang berat-berat, merebus, menggoreng, mengangkat, meniriskan, hingga menghidangkannya di meja makan. Namun saya punya kelemahan membedakan mana makanan yang sudah masak dan mana yang belum, nah disitulah indra penglihatan, penciuman, dan perasa ibu saya tak bisa saya gantikan.
Poin penting dalam tulisan kali ini bukan tentang aktivitas memasaknya, tapi saya ingin menceritakan hikmah dari aktivitas yang biasa saya lakukan tersebut, yaitu tentang sebuah proses.
Membersamai ibu beberapa pekan terakhir dengan menjadi asisten pribadi memasaknya telah mengajarkan saya baik-baik tentang sebuah proses. Proses pembuatan tiap jenis masakan yang berbeda dan tidak cukup satu fase, butuh banyak iterasi atau pengulangan. Dan tiap proses itu membutuhkan sebuah hal yang kita semua tidak dapat terlepas darinya sedikitpun, yaitu waktu. Yap, semua proses membutuhkan waktu.
Ada makanan yang membutuhkan waktu memasak yang panjang, begitu juga waktu memasak yang singkat juga ada. Dalam memasak ayam goreng misalnya, itu termasuk proses yang sangat panjang, dari memotong ayamnya hingga menggoreng. Kita harus membersihkannya, mempersiapkan bumbu untuk merebusnya (yang setiap elemen bumbu punya takarannya masing-masing). Proses perebusan yang cukup lama, kemudian baru kita bisa menggorengnya. Selain butuh waktu, tiap fase proses juga butuh ketelitian dan pengawasan, itu yang terkadang luput dan akhirnya membuat rasa produk masakan kita menjadi tidak optimal.
Waktu, ketelitian, dan kesabaran, adalah sebuah elemen tak terpisahkan dari sebuah proses. Hal ini yang seharusnya menjadi sebuah renungan bagi kita bahwa yang namanya berkembang dan bertumbuh diperlukan itu semua. Kita kadang tidak sabar dengan waktu yang diperlukan, atau terkadang karena sepele dan remeh kita mengabaikan ketelitian dalam pengawasannya.
O ya ternyata setiap proses memasak itu tidak hanya berjalanan serial, namun bisa paralel. Misal saya bisa menumbuk bumbu sambil tetap membiarkan ayam masak dan menunggu potongan-potongan tempe teresap bumbunya. Tiga proses paralel itu membuat penggunaan waktu kita efisien. Begitu pula dalam hidup, akan sangat sayang sekali jika dalam satu waktu proses perkembangan yang kita alami hanya berjalan serial tidak paralel. Cobalah kita cari aktivitas pengembangan kapasitas pribadi yang bisa kita paralelkan dengan pengembangan aktivitas utama kita saat ini. Misal kita sebagai mahasiswa sedang mengembangkan kapasitas memperdalam bidang ilmu spesifik kita dan butuh waktu selama 4 tahun. Dalam waktu 4 tahun tersebut kita dapat selipkan aktivitas pengembangan kapasitas lain seperti ikut organisasi, memperdalam agama, belajar bahasa asing baru, atau memasuki dunia kerja. Semuanya itu bisa berjalan dengan paralel asalkan porsinya tidak berlebihan dan masih dapat kita emban.
Proses adalah sebuah kemutlakan dalam mencapai sebuah hasil. Jangan kita berharap mendapat hasil jika kita tidak melalui sebuah proses. Kalaupun ada hasil yang kita dapatkan secara instan mungkin itu bersifat prematur atau merupakan hasil yang kita dapat dari sebuah proses tersembunyi yang kita jalani namun mungkin tak terlihat. Proses tersembunyi yang kita jalani namun mungkin tak terlihat ini juga harus kita manifestasi sebanyak-banyaknya, karena insyaAllah akan bisa berbuah suatu saat nanti. Contoh dari proses seperti ini misalnya jika kita selalu jujur dalam setiap aktivitas kita dan kredibilitas kita dalam kejujuran dapat diakui, mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang menawarkan pekerjaan penting kepada kita tanpa harus melihat latar belakang, pendidikan, pengalaman dan lain-lain, cukup dari reputasi dan kredibilitas kita dalam kejujuran.
Dari banyaknya kesempatan untuk kita bisa berproses dalam satu satuan waktu ini yang harus kita arahkan agar senantiasa bisa meraih ridha dari Allah SWT. Jangan sampai proses-proses yang kita lakukan membuat kita semakin bertumbuh tapi bukan bertumbuh ke arah yang diridhai oleh Allah. Kita berdoa semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk dapat berproses dalam kebaikan. Mungkin tidak berbalas di dunia namun pasti dengan ijin Allah akan berbalas di akhirat kelak.


Beberapa hari di pekan ini hari-hari kita banyak dipenuhi oleh pemantik-pemantik yang membuat kita banyak berkaca dan mengevaluasi kadar nurani dan kepedulian kita. Sebutlah peristiwa penggusuran tanpa dialog komprehensif yang dilakukan oleh PT KAI hingga banjir yang melanda beberapa wilayah di ibu kota Indonesia hari ini. Dua peristiwa yang muncul beruntutan ini seolah menjadi sebuah sarana refleksi tentang apa kabar nurani dan kepedulian kita. Dua peristiwa yang masih bisa kita putar kembali dalam imagi kita saat ini juga, seakan menjadi sebuah goresan tanda tanya, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka.








