senjaya.net

Jay's Life Journal

Proses

May 22nd, 2013

Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan baru saat pulang ke Tangerang di akhir pekan yaitu di setiap ahad pagi saya selalu menyempatkan membersamai ibu di dapur. Susai shalat subuh dan mengaji saya selalu membersamainya untuk memasak dan menyiapkan makanan hingga semua makanan untuk kami sekeluarga hari itu rampung, biasanya memakan waktu dari jam 6 hingga jam 8 pagi.

Hari ahad memang senantiasa menjadi hari yang spesial bagi ibu saya. Karena di hari ahad saya biasanya ada di rumah sehingga ia selalu ingin memberikan makanan spesial hasil masakannya sendiri kepada saya. Namun kondisi ibu saya saat ini tidak sebaik dulu. Dulu ia adalah jagoan handal dalam hal memasak, pernah mendapat juara dalam lomba masak di Jakarta pada waktu muda dulu menjadi salah satu bukti kemampuannya. Namun setelah menderita stroke ringan karena hipertensi kemampuan motorik tubuh sebelah kiri membuat semua aktivitas yang dulu mudah seperti berjalan dan menggenggam sekarang menjadi sulit dan berkurang kecepatannya sekarang.

Nah saya biasanya berperan sebagai asisten pribadinya dalam memasak. Ibu saya akan menjadi instruktur dan evaluator sedangkan saya yang menjadi tangan dan kakinya. Saya yang mengambilkan bahan, menunbuk bumbu, mempersiapkan alat memasak, dan mengangkat peralatan dapur yang berat-berat, merebus, menggoreng, mengangkat, meniriskan, hingga menghidangkannya di meja makan. Namun saya punya kelemahan membedakan mana makanan yang sudah masak dan mana yang belum, nah disitulah indra penglihatan, penciuman, dan perasa ibu saya tak bisa saya gantikan.

Poin penting dalam tulisan kali ini bukan tentang aktivitas memasaknya, tapi saya ingin menceritakan hikmah dari aktivitas yang biasa saya lakukan tersebut, yaitu tentang sebuah proses.

Membersamai ibu beberapa pekan terakhir dengan menjadi asisten pribadi memasaknya telah mengajarkan saya baik-baik tentang sebuah proses. Proses pembuatan tiap jenis masakan yang berbeda dan tidak cukup satu fase, butuh banyak iterasi atau pengulangan. Dan tiap proses itu membutuhkan sebuah hal yang kita semua tidak dapat terlepas darinya sedikitpun, yaitu waktu. Yap, semua proses membutuhkan waktu.

Ada makanan yang membutuhkan waktu memasak yang panjang, begitu juga waktu memasak yang singkat juga ada. Dalam memasak ayam goreng misalnya, itu termasuk proses yang sangat panjang, dari memotong ayamnya hingga menggoreng. Kita harus membersihkannya, mempersiapkan bumbu untuk merebusnya (yang setiap elemen bumbu punya takarannya masing-masing). Proses perebusan yang cukup lama, kemudian baru kita bisa menggorengnya. Selain butuh waktu, tiap fase proses juga butuh ketelitian dan pengawasan, itu yang terkadang luput dan akhirnya membuat rasa produk masakan kita menjadi tidak optimal.

Waktu, ketelitian, dan kesabaran, adalah sebuah elemen tak terpisahkan dari sebuah proses. Hal ini yang seharusnya menjadi sebuah renungan bagi kita bahwa yang namanya berkembang dan bertumbuh diperlukan itu semua. Kita kadang tidak sabar dengan waktu yang diperlukan, atau terkadang karena sepele dan remeh kita mengabaikan ketelitian dalam pengawasannya.

O ya ternyata setiap proses memasak itu tidak hanya berjalanan serial, namun bisa paralel. Misal saya bisa menumbuk bumbu sambil tetap membiarkan ayam masak dan menunggu potongan-potongan tempe teresap bumbunya. Tiga proses paralel itu membuat penggunaan waktu kita efisien. Begitu pula dalam hidup, akan sangat sayang sekali jika dalam satu waktu proses perkembangan yang kita alami hanya berjalan serial tidak paralel. Cobalah kita cari aktivitas pengembangan kapasitas pribadi yang bisa kita paralelkan dengan pengembangan aktivitas utama kita saat ini. Misal kita sebagai mahasiswa sedang mengembangkan kapasitas memperdalam bidang ilmu spesifik kita dan butuh waktu selama 4 tahun. Dalam waktu 4 tahun tersebut kita dapat selipkan aktivitas pengembangan kapasitas lain seperti ikut organisasi, memperdalam agama, belajar bahasa asing baru, atau memasuki dunia kerja. Semuanya itu bisa berjalan dengan paralel asalkan porsinya tidak berlebihan dan masih dapat kita emban.

Proses adalah sebuah kemutlakan dalam mencapai sebuah hasil. Jangan kita berharap mendapat hasil jika kita tidak melalui sebuah proses. Kalaupun ada hasil yang kita dapatkan secara instan mungkin itu bersifat prematur atau merupakan hasil yang kita dapat dari sebuah proses tersembunyi yang kita jalani namun mungkin tak terlihat. Proses tersembunyi yang kita jalani namun mungkin tak terlihat ini juga harus kita manifestasi sebanyak-banyaknya, karena insyaAllah akan bisa berbuah suatu saat nanti. Contoh dari proses seperti ini misalnya jika kita selalu jujur dalam setiap aktivitas kita dan kredibilitas kita dalam kejujuran dapat diakui, mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang menawarkan pekerjaan penting kepada kita tanpa harus melihat latar belakang, pendidikan, pengalaman dan lain-lain, cukup dari reputasi dan kredibilitas kita dalam kejujuran.

Dari banyaknya kesempatan untuk kita bisa berproses dalam satu satuan waktu ini yang harus kita arahkan agar senantiasa bisa meraih ridha dari Allah SWT. Jangan sampai proses-proses yang kita lakukan membuat kita semakin bertumbuh tapi bukan bertumbuh ke arah yang diridhai oleh Allah. Kita berdoa semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk dapat berproses dalam kebaikan. Mungkin tidak berbalas di dunia namun pasti dengan ijin Allah akan berbalas di akhirat kelak.

Mencinta Sampai Hati

March 25th, 2013

Saya ada tipikal orang yang jika sudah mencintai sesuatu akan memberikan semua yang bisa diberikan pada hal tersebut, bukan terkait hanya pada operorangan tapi pada amanah atau bahkan sekecil perencanaan aktivitas rutin sekalipun. Yang paling membekas selama ini adalah cinta-cinta saya sewaktu dipercayakan mengemban sebuah amanah kepemimpinan, saya akan menceritakan beberapa dalam tulisan ini.

Mengingat organisasi pertama saya Forkat Asrama UI, khususnya di acara P3A. Saya kadang suka tersenyum sendiri saya bisa jatuh hati di sana dan membuat saya all out dengan segala yang bisa saya berikan. Saya masih ingat, sengaja mengubah printer saya menjadi printer infus tinta agar saya bisa mencetak sebanyak2nya publikasi acara yang menarik dan bisa memenuhi seluruh asrama UI. Saya juga ingat, saking inginnya setiap acara bisa memakai sound yang berkualitas, saya bersama ayah saya membuat sendiri speaker active yang bisa dibuat terhubung dengan mic wireless, dan jadilah sebuah sound system super bagus suaranya untuk bisa kita gunakan setiap acara, yang suaranya bisa terdengar dalam radius puluhan meter sekalipun dalam volume maksimal, dan masih banyak lagi hal2 lainnya yang kalau diukur dengan logika rasional takkan masuk dalam sebuah alasan bagi seseorang tuk melakukannya kecuali karena alasan cinta.

Teringat waktu masih di FUKI dulu, ketika jadi kadep syiar. Di situ saya jatuh cinta yang kedua kalinya dengan yang namanya mengemban amanah. Syiar bukan hanya soal sebuah departemen, tapi lebih dari itu, jauh lebih dari itu, ia adalah sebuah keluarga. Semua yang dilakukan akhirnya extra miles, mulai dari perencanaan acara dan aktivitas yang revolusioner, inisiatif jualan donat tiap hari untuk pendanaan mandiri tuk pengadaan kajian Islam pekanan, hingga saya yang pemalu bisa menyulap diri menjadi orang yang tebal muka mengajak tiap orang biasanya untuk ikut kajian Islam rutin pekanan. Masih ingat ketika saya dimarahi oleh korwat syiar kami waktu itu karena banyak sekali uang pribadi yang  menggelontor ke sana ke sini sehingga pencatatan keuangan dan reimburs menjadi acak2an. Tapi akhirnya itu semua meninggalkan lembaran manis kenangan, karena semua yang dilakukan dengan cinta tak pernah sia-sia.

Cinta saya yang terakhir dalam pengalaman saya sebagai mahasiswa adalah di BK MWA UI UM. sebuah organisasi pertama saya di level UI yang terdiri dari beragam karakter penuh warna dengan kekhasannya masing-masing berpeluk padu di dalamnya. Cinta saya di wadah ini bisa memaksa saya yang buta dan benar-benar buta dengan dunia hukum, perpolitikan, dan strategi dalam pengambilan kebijakan menjadi seorang yang harus menelan itu semua menjadi makanan sehari-hari. Di sini saya belajar banyak tentang menjadi seorang pemimpin yang senantiasa motor semangatnya tak boleh pernah berhenti. Seorang pemimpin yang harus berdiri dalam beragam kepentingan, pemikiran, tekanan, hingga intrik-intrik. Tapi rasa cinta yang menyebabkan saya bisa bertahan dan kerasan mengarungi seluruh episodenya.Tak boleh terlihat lemah, harus bisa memberikan yang terbaik, apalagi di depan keluarga BK itu sendiri saya harus selalu kuat dan tak boleh sekalipun roboh dengan berbagai kesulitan di sana sini. Kelelahan adalah kosa kata yang tertulis tiap hari dalam guratan lelap saya waktu itu, tapi itu semua terhapuskan dengan mudahnya setiap langkah kaki kembali beranjak dalam aktivitas di BK MWA itu. Dan akhirnya kembali lagi cinta membwa pembuktian, bahwa dengannya keluarga BK MWA menjadi salah satu keluarga terbaik dan termanis yang membekas dengan sangat kuat dalam ingatan saya hingga saat ini.

Dan cinta yang saya jalani saat ini, adalah cinta di Badr Interactive. Sebuah cinta yang benar-benar berelevansi dengan cita dan mimpi kehidupan saya. Cinta yang dibangun karena kelurusan dan ketulusan orang-orang yang ada di dalamnya. Cinta yang membatu karena tanggung jawab dan peran besar yang diemban oleh kedua pundak ini. Jika bisa kita membuat kantung tuk menampung sebanyak-banyaknya hal tentang Badr Interactive, maka cinta yang ada membuat kantung itu seperti karet yang daya elastisitasnya sangat besar tak terkira. Berjalan dan menyelami aktivitas di setiap hari dengan cinta adalah seperti derasnya aliran air terjun yang jatuh menghujam tanpa ada penghalang di sana, mampu menciptakan energi yang keras dan kuat menghujam di setiap debit air yang jatuh di sana. Hingga kini energi penuh ingin selalu diberikan untuk memajukan ladang perjuangan kami ini.

Di akhir paragraf ini saya ingin menegaskan kembali, bahasa cinta adalah bahasa universal, yang bisa melintas melewati medium yang tak mampu ditangkap indera manusia. Lakukanlah semuanya dengan menyertakan cinta dan biarkan cinta itu memenuhi diri kita hingga akan membuat semua langkah-langkah sekalipun itu berwujud pengorbanan menjadi sebuah hal yang berharga untuk dilakukan.

 

Hiduplah di Dunia sebagai Musafir

March 17th, 2013

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416)

Hadits di atas secara jelas menceritakan tentang perintah Rasulullah kepada kita untuk hidup di dunia seolah-olah sebagai musafir (orang yang melakukan perjalanan). Pernahkah kita membayangkan dan memosisikan diri kita sebagai seorang musafir? Apakah yang akan kita rasakan ketika kita menjadi seorang petualang dan menjadi asing di setiap tempat baru yang kita datangi atau singgahi? Ada banyak sekali hal yang dapat kita lihat dengan sudut pandang berbeda ketika kita melihatnya dengan kaca mata sebagai seorang musafir.

Orang yang ringan terhadap tempat berpijaknya saat ini

Seorang musafir adalah orang yang dapat menyadari sepenuhnya bahwa keberadaannya di suatu tempat hanyalah sementara, sehingga ia tidak akan mengikatkan dirinya terlampau dalam dengan tempat menetapnya itu. Ia akan sangat ringan ketika harus meninggalkan tempat berpijaknya saat ini dan berpindah ke tempat persinggahannya yang lain. Ia juga tidak akan terlampau peduli dengan segala kesempitannya saat ini di tempat tersebut karena ia tahu bahwa keberadaanya di sana hanya sementara.

Mereka yang memosisikan diri sebagai musafir di dunia akan menyadari dengan penuh kesadaran bahwa dunia hanyalah sebuah tempat persinggahan sementara, sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan ‘pulang’. Pikirannya akan selalu disibukkan dengan rencana kepulangannya dibandingkan dengan keterikatannya di tempat tersebut. Ia tidak akan terlampau berat dalam merelakan berbagai macam fasilitas dunia yang ia miliki karena sejak awal dia sudah tau bahwa yang ia dapat bawa pergi di perjalanan ‘pulang’ hanya bekal yang dapat dipakai di perjalanannya, bukan berupa benda atau perangkat yang dapat dinikmati hanya di tempatnya singgah.

Mereka juga akan sangat ringan jika sewaktu-waktu harus segera pergi dari tempat singgahnya ke tempat singgah yang lain ataupun harus langsung pulang ke tempat asalnya. Mereka akan menganggap persinggahan dari satu tempat ke tempat lainnya adalah sebuah fase antara yang tidak akan berlangsung selamanya sebelum akhirnya mereka akan dipanggil kembali pulang ke tempat asalnya. Hidupnya ringan, siap berjalan di saat ia harus berjalan, dan siap pulang di saat ia sudah seharusnya pulang.

Orang yang senantiasa dapat mensyukuri segala hal yang dijumpainya

seorang musafir akan menjadi orang yang paling exited dengan lingkungan yang dijumpainya tersebut. Ia akan memiliki cara pandang yang berbeda dengan senantiasa terkagum-kagum dan memotret setiap realita, pemandangan, ataupun budaya daerah tersebut. Seorang musafir akan memiliki cara pandang yang sangat berbeda dengan cara pandang orang yang menetap lama di daerah tersebut yang tidak memiliki ketertarikan berlebihan terhadap tempat-tempat yang ia jumpai karena ia telah melaluinya setiap hari.

Menjadi musafir adalah tentang kita yang tidak pernah berhenti mengagumi berbagai realita yang terhampar di hadapan kita sehingga ekspresi-ekspresi syukur, kekaguman, dan puji terhadap Allah SWT akan senantiasa terucap olehnya. Bahkan pada situasi yang mungkin menurut penduduk daerah setempat merupakan situasi yang tidak menyenangkan, di mata para musafir adalah sebuah daya tarik dan pengalaman baru yang mengasyikkan. Tentunya bisa kita bayangkan bersama tentang bagaimana penuh warnanya hidup seorang musafir, mereka yang dapat menangkap setiap hikmah terkecil yang ada di dalam rutinitas hidup sehari-hari sekalipun. Mereka yang akan senantiasa terinspirasi, sebuah inspirasi yang dilandaskan pada puja puji syukur terhadap keagungan dan kekuasaan Sang Pencipta alam ini.

Orang yang senantiasa bersiap siaga dan waspada

Pernahkah kita mendatangi atau bahkan menetap di tempat yang sama sekali baru dengan penduduk yang tidak satupun mengenal kita? Apa yang akan kita rasakan ketika kita berada pada posisi tersebut? Kita akan merasa tidak tenang dan penuh kewaspadaan, kita akan senantiasa berhati-hati dalam setiap tindak tanduk terkecil kita, jangan sampai ada sikap atau perbuatan kita yang dapat menimbulkan hal buruk di tempat kita singgah ataupun mempengaruhi perjalanan pulang kita kelak.

Rasa tidak tenang dan khawatir itu yang akan membawa kita untuk senantiasa waspada dengan berbagai macam hal yang akan dihadapi. Kita akan menjadi orang yang harus paling siap menghadapi berbagai macam kondisi tak terduga sekalipun.

Di dalam perjalanan di antara tempat persinggahan satu maupun yang lainnya kita juga akan senantiasa diliputi sikap waspada karena kita selalu berada di tempat yang baru dan belum kita kenal. Setiap langkah bahkan mungkin akan kita perhatikan. Akan sangat berbeda dengan mereka yang menetap dan hampir hafal setiap jengkal daerah yang selalu mereka lewati, bahkan sambil memejamkan matapun mereka akan tetap tidak merasa perlu waspada karena mereka mengenali betul daerah tempat mereka menetap tersebut.

Sifat senantiasa siaga dan waspada ini bagi seorang Muslim akan bisa menghindarkan dirinya dari berbagai macam perbuatan buruk yang berujung pada kemurkaan Allah. Mereka akan bisa melakukan penilaian mendetail tentang setiap tindak tandung mereka sehingga kemungkinan terjerumus ke dalam kelalaian akan menjadi lebih kecil dari orang yang menetap.

Orang yang senantiasa efektif dan efisien mempergunakan resource

Musafir identik dengan keterbatasan resource / sumber daya. Perbekalannya tentunya terbatas karena daya tampung dan angkutnya terhadap bekal juga terbatas. Hal ini akan memaksanya untuk hidup hemat, efektif, dan efisien. Ia akan terbiasa mempergunakan akalnya untuk mengatasi berbagai macam kondisi yang menuntutnya untuk memenuhi setiap penyediaan bekal perjalanannya, salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan berhemat.

Seorang musafir akan menjadi orang yang benar-benar teliti dalam penggunaan bekal perjalanannya, sehingga efisiensi dan efektivitas aktivitasnya sehari-hari harus dilakukan dengan sangat baik. Jika hal ini tidak dilakukan bukan tidak mungkin ia akan kehabisan energi dan bekal di tengah perjalanannya selanjutnya.

Relativitas Kesedihan dan Kegembiraan

March 12th, 2013

Kesedihan dan kegembiraan selama itu ukurannya dunia dan terjadi di dunia adalah relatif, dan mereka semua bisa hilang rasanya karena tergerus oleh waktu.

mencoba mengingat kembali kesedihan tersakit maupun kegembiraan terbesar di masa lalu, semua hanyalah semua kenangan, yang rasanya mungkin saja tak berbekas seindah rasa di masa kita mendapatkannya.

kegembiraan seperti masuk universitas unggulan, meraih prestasi, atau lulus dengan baik, mungkin manis sekali pada masanya, tapi tergerus rasanya oleh waktu ketika kita melihatnya dari kaca mata saat ini.

kesedihan seperti kehilangan orang tua, kehilangan harta benda, hingga sakit yang tak terperikan, mungkin terasa berat tanpa harapan tuk menghadapinya pada masanya, tapi tersapu perihnya oleh waktu ketika kita melihatnya kini.

tampatkan porsi kesedihan dan kegembiraan dunia pada porsinya.

porsinya adalah bersyukur untuk setiap nikmat Allah yang menyebabkan kegembiraan, dan bersabar untuk setiap ujian Allah yang menyebabkan kesedihan,

roda kehidupan bergulir, bersiaplah menghadapi kesedihan terdalam maupun kegembiraan yang meluap kapanpun itu pada waktunya,

roda kehidupan bergulir, tuk menguji siapa diantara kita yang benar-benar beriman kepada-Nya.

“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3)

Campur Tangan Allah itu Nyata

March 12th, 2013

Diri ini yang diberi nafas oleh Allah tuk mengecap berbagai macam deru dan putaran roda kehidupan, dalam interaksi dan perjalanannya, mendengar, melihat, mengetahui, bahkan merasakan sendiri campur tangan Allah dalam setiap jengkal perjalanan kita.

Skenario indah-Nya, tak dapat terpikirkan oleh prediksi se-presisi apapun, tak dapat diterka oleh analisa setajam siapapun. Skenario indah-Nya bermain, meliuk di tengah-tengah hembusan nafas kita, mengalir dalam tiap detak jantung kita, memasuki alam bawah sadar kita, mengarahkan kita dalam sebuah skema tak terperi kedasyatannya.

Menggabungan dari berbagai macam fenomena dan kejadian hidup, yang berdiri sendiri maupun saling berkaitan, yang terjadi di masa kini, maupun jauh sebelum kita dilahirkan, yang terencana, maupun yang harus dihadapi karena keterpaksaan. Semuanya, indah, dan nyata.

Menenggelamkan diri dalam palung prasangka baik atas rencana baik-Nya, sambil mengawasi detail setiap gerak gerik kita akan tersasarnya kita dari pagar syariat-Nya adalah sebuah pilihan terbaik bagi seorang hamba.

Campur tangan Allah itu nyata, dari kejadian yang paling masuk rasio sehari-hari kita, hingga yang membuat kita menganga melihatnya nyata terjadi di sekitar kita.

Campur tangan Allah itu nyata, tuk membuat kita yang berakal berpikir, kita lemah dan maha tidak tahu, tempat kita berharap dan bergantung hanyalah Allah.

Campur tangan Allah itu nyata, tuk menggerus harga diri dan pongah kesombongan kita, kita hina penuh noda di hadapan-Nya

Mencari tak berhingga nikmat Allah di setiap aktivitas kita

February 27th, 2013

IMG_0477Pagi ini saya merenung, sambil melihat dari jendela kantor arus jalan yang saat ini (jam 06.30 pagi) di jalan Juanda sudah sangat padat diisi lalu lalang kendaraan. Di sana saya tersadar akan nikmat Allah yang sangat besar terhadap waktu pagi ini yang tak harus diisi oleh tekanan kepadatan lalu lintas jalanan, tapi dengan dengungan-dengungan qur’an yang menyejukkan. Dari sana saya terbawa menuju sebuah narasi panjang akan deretan nikmat Allah tak terhitung dan kadang tak terlihat dalam lembaran-lembaran kehidupan saya di Badr Interactive.

Yang paling terlihat adalah, pagi saya senantiasa bisa dilakukan dengan produktivitas tinggi. Dimulai dari deretan aktivitas pasca pulang shalat shubuh hingga jam 7 pagi itu bisa diisi dengan matsuratan, tilawah 0,5 hingga 1 juz, plus murajaah hafalan, dan kalau sedang rajin menambah hafalan. Setelah jam 7 biasanya masih banyak pilihan aktivitas yang bisa saya lakukan, membaca koran pagi hari, baca buku-buku dari perpustakaan pribadi, atau olah raga pagi di loteng kantor Badr Interactive sambil mengamati panorama sepanjang cakrawala Depok yang dapat terlihat dari loteng kantor Badr Interactive ini. Hal yang sama sulit untuk dilakukan oleh orang yang bekerja di tengah Jakarta. Saat mereka harus bersiap dan berkemas sejak pagi buta dan berangkat ke kantor berhadapan dengan padatnya lalu lintas.

Saya sangat sering berpikir menyelesaikan masalah hingga merencanakan rencana strategis untuk Badr Interactive ini. Kadang-kadang buntu, sangat sulit, membuat pusing, stress dan tertekan. Pada puncaknya bahkan bisa berdampak pada kesehatan fisik. Tapi saya sangat senang melakukannya. Karena kesulitan dan ketidaknyamanan itu saya lakukan untuk mewujudkan mimpi kami bersama di Badr Interactive ini. Sebuah mimpi tinggi yang belum terjangkau saat ini, yang mengingatnya selalu membakar dan menggetarkan hati, mimpi kami tuk meninggikan Islam melalui teknologi dengan membawa Badr Interactive menjadi perusahaan teknologi mobile kelas dunia. Semua kesulitan dan kebuntuan tak pernah ada yang terasa sia-sia atau percuma. Semua akan berdampak pada pengembangan kapasitas diri dan juga langkah-langkah maju dan bertahap Badr Interactive. Melihat Badr Interactive bertumbuh adalah sebuah kepuasan kami bersama. Pertumbuhannya adalah referensi bagi kami tuk membangun kepercayaan bahwa visi kami bisa tercapai, bahwa Badr Interactive suatu saat bisa menjadi penyokong ketinggian Islam dalam teknologi di dunia internasional.

Nikmat lainnya yang sering kali luput dari saya adalah tentang bisa berkumpul dengan mereka yang punya visi yang sama. Mereka yang Allah persaudarakan dengan saya bukan hanya karena ikatan kerja semata, tapi juga persaudaraan dalam visi bersama. Sebuah ikatan perjuangan yang tak terkikis hanya oleh ikatan semua bernama materi dan kedudukan. Tentang senyum, tawa, marah, sedih, dan haru yang kami jalani bersama, yang menjadi sebuah melodi indah dan mempercantik harmoni perjalanan ini. Tentang sebuah keluarga dan sahabat perjuangan yang tulus dan lurus. Yang mungkin akan sangat sulit ditemukan dalam kesempatan lain.

Masih banyak nikmat lainnya yang tak bisa diurai satu persatu. Menyentak diri jika selama ini tak menyadari atau bahkan tak mensyukuri nikmat yang sungguh luar biasa ini. Dan saya yakin di setiap ranah kerja kita masing-masing saat ini ada tak berhingga nikmat Allah yang diberikan kepada kita, hanya tinggal kita mampu menyadari dan mengambil hikmah di dalamnya atau tidak. Bahkan untuk mereka yang sebelum shubuh harus berangkat ke kantor dan berhadapan dengan padatnya lalu lintas hingga mereka yang belum mendapat pekerjaan hingga kini, selalu ada celah bagi kita untuk melihat dan menyadari tak berhingga kebaikan Allah yang ada di dalamnya. Resapi dan syukuri penuh makna seluruh aktivitas yang melekat dalam kehidupan kita saat ini sehingga kita akan merasa ringan dalam melalui jalan-jalan yang sedang kita lalui sekarang ini.

 

Mengendalikan Diri

January 19th, 2013

self controlSeseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri (artinya, memiliki kesabaran) (Al-Hadist)

Hari ini saya sungguh tertohok dengan hadits tersebut, maklum karena hari ini saya memiliki masalah dalam mengendalikan diri, terutama mengendalikan hati. Bicara tentang mengendalikan diri bagi saya adalah bicara tentang taraf kedewasaan seseorang, kematangan diri, dan kesadaran akan pembersamaan Allah di setiap hela nafas kita. Mereka yang bisa mengendalikan dirinya adalah orang-orang yang mampu menjadi tuan atas nafsu dan segala pikiran-pikirannya. Bukan karena mereka tidak memiliki keinginan, hasrat, atau emosi, tapi karena kesadaran mereka sebagai seorang hamba yang setiap tindak tanduk terkecil hidupnya –hingga ke tataran terhalus seperti pikiran- harus tunduk kepada tindakan-tindakan yang diridhai oleh Allah SWT.

Pengendalian diri bagi saya adalah bukan soal kematangan pemahaman seseorang dalam konteks pengetahuan agamanya saja, tapi juga seni bagaimana ia melakukan berbagai macam cara untuk bisa berdamai dan mengarahkan semua keinginan dan pikirannya secara objektif dan penuh pertimbangan yang rasional agar melahirkan output (pikiran atau tindakan) yang diridhai Allah. Salah satu cara yang paling sering saya gunakan untuk mengendalikan diri adalah melakukan dialog internal di dalam diri tentang segala macam hal yang mendasari diperbuat atau tidaknya suatu perbuatan yang akan kita rencanakan untuk dilakukan. Terbiasa untuk mengambil satu dua nafas sejenang, berdiam, merenung sebentar, dan melakukan dialog singkat dengan meminimalisir emosi yang ada akan sangat membantu kita menetralisir penyebab-penyebab lemahnya pengendalian diri kita. Semakin sering kita membiasakan diri untuk melakukan dialog internal, maka akan semakin mudah kita bisa mengkondisikannya di berbagai macam kesempatan dan kondisi.

Namun kadang kala ada beberapa waktu atau situasi yang membuat pengendalian diri kita berada dalam taraf yang paling lemah.Dan hal ini adalah hal yang lumrah bagi setiap orang untuk punya kelemahan dalam pengendalian dirinya. Bagi saya personal ada dua kondisi yang sangat rawan bagi saya untuk bisa melakukan pengendalian diri yang optimal: saat sedang sakit dan saat sedang sendirian.

Ketika sedang sakit, biasanya kita akan merasa punya kebutuhan untuk mendapat perhatian, dan memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian, walaupun ini tidak berlaku general ke setiap orang, tapi saya merupakan orang yang punya kecenderungan hal tersebut. Hal ini dikarenakan, dulu sewaktu masih tinggal bersama orang tua, setiap sakit saya akan selalu mendapatkan perhatian yang super ekstra terutama dari ibu saya. Ini menyebabkan ketika saya sendirian dan menderita sakit saya sering merasa kehilangan perhatian yang selama ini membuat nyaman dan menghangatkan. Keinginan untuk merasa diperhatikan itu yang membuat sisi kekanak-kanakan saya muncul, dan akhirnya sulit mengendalikan diri. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh beberapa orang yang punya kecenderungan lebih emosian atau lebih sensitif ketika sedang tidak sehat badannya. Oleh karena itu langkah preventif ke depan, jika sedang sakit, selama masih belum ada orang yang memang berdedikasi untuk bisa memberi perhatian, saya akan menjauhkan diri dari interaksi dengan orang lain atau meminimalisir pengambilan keputusan strategis di kondisi seperti itu.

Kondisi yang kedua adalah ketika sedang sendirian. Jika kita ingin melihat seperti apa akhlaq seseorang yang sebenarnya, maka lihatlah ketika ia sedang sendirian. Konteks pengendalian diri ketika sedang sendirian yang biasanya sering terjadi adalah maksiat terhadap waktu. Kita sering kali tidak bijak memakai waktu, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat di waktu-waktu senggang kita ketika sedang sendirian, atau bahkan waktu-waktu sendirian itu digunakan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, naudzubillah mindzaliq. Oleh karena itu saya termasuk orang yang dalam kesehari-hariannya sangat menghindarkan diri sekali berada dalam kesendirian di waktu yang lama. Terlebih saya adalah orang yang akan dapat tumbuh berkembang dengan optimal ketika berada di dalam lingkungan yang kondusif (disiplin, ketat, ada sistem, dll), sebaliknya, ketika sedang sendirian dan tidak ada yang bisa dijadikan benchmark dan partner dalam berlomba dalam kebaikan maka laju perkembangan diri saya tidak akan secepat ketika berada bersama-sama dengan orang lain dalam sebuah lingkungan yang kondusif.

Kedua konteks di atas saya sadari, berkaitan dengan ketergantungan diri ini terhadap seorang partner dan mungkin masalah tersebut tidak akan ditemui terlampau signifikan oleh orang yang sudah menikah ataupun oleh orang yang berada dalam lingkungan yang ramai seperti di asrama, pesantren, atau kontrakan yang intens interaksi di dalamnya. Sampai saat ini solusi jangka pendek yang saya pikirkan untuk meminimalisir potensi lemahnya pengendalian diri adalah dengan membangun iklim yang kondusif dalam lingkungan tempat tinggal saya kini, sedangkan jangka panjangnya adalah menikah dan membentuk lingkungan interaksi yang kondusif bersama istri nanti.

Namun dibalik itu semua, dengan atau tanpa orang lain bersama kita, pengendalian diri sejatinya harus disadari oleh kesadaran diri bahwa Allah senantiasa mengawasi dan melihat kita. Rasakanlah rasa malu yang menyeruak ketika kita tidak mampu mengendalikan diri dan kita menyadari Allah melihat itu semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk mengendalikan segala nafsu dan emosi negatif diri kita sehingga kita dapat secara paripurna menjadi tuan atas nafsu kita untuk bisa kita arahkan kepada ridha Allah semata.

Memelihara Nurani dan Kepedulian

January 17th, 2013

Beberapa hari di pekan ini hari-hari kita banyak dipenuhi oleh pemantik-pemantik yang membuat kita banyak berkaca dan mengevaluasi kadar nurani dan kepedulian kita. Sebutlah peristiwa penggusuran tanpa dialog komprehensif yang dilakukan oleh PT KAI hingga banjir yang melanda beberapa wilayah di ibu kota Indonesia hari ini. Dua peristiwa yang muncul beruntutan ini seolah menjadi sebuah sarana refleksi tentang apa kabar nurani dan kepedulian kita. Dua peristiwa yang masih bisa kita putar kembali dalam imagi kita saat ini juga, seakan menjadi sebuah goresan tanda tanya, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka.

Memelihara nurani dan kepedulian adalah kebutuhan. Mereka dapat dengan mudah tergerus dan luntur oleh rutinitas kehidupan kita yang semakin ke sini semakin diwarnai oleh orientasi dan kecenderungan mengejar materi. Rutinitas meniti karir dan menumpuk bekal duniawi dengan balutan tuk menjadikannya tapak jaminan masa depan dan keajegan kedudukan status sosial masyarakat kita, sebenarnya adalah sebuah rayap yang terus menerus menggerus kepekaan dan kepedulian kita sebagai seorang manusia yang punya kecenderungan sosial dalam hidupnya. Semakin sering rutinitas kita pelihara, semakin subur rasa egois dan individualis kita. Semua akan menjadi sebuah rasio pertimbangan untung rugi bagi kita atau orang-orang yang bersentuhan dengan kita semata. Semakin sedikit kita berpikir tentang mereka, alih-alih semakin banyak kita berpikir tentang saya atau kita.

Banyak mereka yang pada masa muda, khususnya masa mahasiswa saat aktivitas sehari-harinya diwarnai dan dipenuhi dengan berbagai aktivitas sosial dan pengabdian. Mereka mensinergiskan eksistensi mereka sekaligus penyaluran energi membuncah mereka dengan berbagai aktivitas positif yang orientasinya untuk orang lain, terutama untuk rakyat kecil. Namun ketika sudah memasuki masa dunia karir-walaupun tidak semua- akhirnya semakin sedikit alokasi waktu untuk ikut serta dan berpartisipasi dengan kegiatan-kegiatan yang berorientasi sosial. Hari-hari mereka terbeli oleh rutinitas pekerjaan mereka, akhir pekannya tersita oleh rehat istirahat atau rekreasi jiwanya, liburpun jadi sebuah sarana pemuas dahaga kebebasan rutinitas sesaatnya. Hingga akhirnya berjalan lama, berlarut dan aktivitas sosial menjadi asing di telinga, di hatinya, bahkan menjadi sebuah hal yang aneh dan mengganggu saat bersentuhan dengannya.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk tetap memelihara nurani dan kepedulian. Tidak serta merta ketika kita ingin memelihara nurani dan kepedulian kita harus menjadi orang yang anti mengumpulkan materi, meninggalkan pekerjaan kita, atau meninggalkan semua materi yang melekat pada kita saat ini. Semuanya bisa berjalan sinergis dan saling mendukung satu sama lain. Yang kita butuhkan hanyalah menyisihkan waktu dan perhatian untuk menengok lebih jauh, dan menyembunyikan rasa malas dan lelah kita untuk melangkah membantu, biarpun hanya sejejak kecil. Jadilah orang yang selalu ingin tahu kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar kita saat ini.

Banyak sarana yang bisa kita manfaatkan dan lakukan, dengan membaca koran, mendengar berita, melihat artikel-artikel berita terbaru di internet, maupun bergabung dengan komunitas-komunitas yang memiliki orientasi sosial yang tinggi. Dekatkanlah diri kita dengan sumber-sumber informasi yang bisa memantik dan mengetuk nurani kita tuk merasa resah dan tak nyaman melihat ketidakberesan dan penderitaan yang dialami orang lain. Jangan antipati terhadap berita-berita kemalangan saudara kita.

Sarana lain, kita bisa mendukung penuh gerakan-gerakan kepedulian dan kebaikan yang ada di sekitar kita. Bantulah dari yang terkecil hingga yang terdasyat. Dari hanya sekedar membantu menyebarkan informasi hingga memberikan tenaga dan materi dalam gerakan yang ada di sekitar kita. Dukung dengan tulus dan hilangkan rasa berat hati yang ada jika mereka muncul hanya karena bukan kita yang menjadi inisiatornya. Berpartisipasilah, bergabung dan bergerak bersamalah. Tidak peduli apa latar belakang, label, golongan, maupun ideologinya, saat mereka punya kesamaan tujuan, maka bekerja samalah dan bantu mereka. Satu hal yang kadang sering menjadi penyakit hati yang menjangkiti hati kita adalah kita terkadang masih mengharapkan ketenaran karena apa yang kita perbuat. Hilangkan pikiran-pikiran seperti itu. Janganlah mengharap pujian dari manusia, kita berharap saja penilaian dan ridha dari Allah.

Kemudian sarana lainnya, dekat dan berinteraksilah bersama mereka yang konkret menyalurkan kepedulian dan memelihara nuraninya dalam bentuk aksi nyata. Suatu saat kita akan merasa tersentil dan terhentak jika kita masih bisa berdiam sementara orang-orang di sekitar kita punya kontribusi dan aksi nyatanya masing-masing. Peliharalah keinginan untuk juga bisa mewujudkan aksi nyata, dari maupun bersama orang-orang di sekitar kita.

Terakhir, memelihara nurani dan kepedulian adalah sebuah modal utama bagi setiap generasi penerus sebuah bangsa. Mereka yang kelak akan menempati peran-peran strategis sebagai pemimpin dan penentu arah kemajuan bangsanya. Jangan sampai ketika kita menempati posisi tersebut suatu saat nanti, nurani dan kepedulian kita sudah membatu dan sulit sekali tersentuh oleh kesusahan orang lain. Menjadi pemimpin yang mudah teriris dan gusar dengan kesusahan orang yang diayominya adalah salah satu parameter kesuksesannya dalam memimpin bangsanya. Mari walaupun sedikit, kita memelihara nurani dan kepedulian.

Cerita Kami, Badr Interactive

November 7th, 2012

Penggalan cerita ini merupakan kelanjutan cerita saya tentang Badr Interactive (http://senjaya.net/?p=289) , sebuah perusahaan dakwah yang kami dirikan dan alhamdulillah masih bisa bertahan dan terus berkembang insyaAllah. Tulisan ini bukan tuk mendapat decak kagum, tidak lain ditujukan untuk memelihara semangat dan keteguhan pribadi yang lemah ini akan cita-cita besar kami, sebuah cita-cita langit, meninggikan Islam melalui bekal yang diberikan Allah pada kami, penguasaan teknologi informasi.

Badr Interactive, bagi saya merupakan sepenggal tak terpisahkan dari kehidupan saya. Bukan hanya karena sebagian besar waktu saya tercurahkan ke perusahaan ini (tinggal di kantor, dan tak memandang lagi mana jam kerja maupun bukan untuk bekerja), tapi karena saya secara value dan visi telah jatuh hati pada Badr Interactive dan tak dapat berpaling darinya.

Perusahaan yang didirikan dengan nafas dakwah ini memang terlahir karena kami ingin bisa berdakwah sekaligus mencari bekal materi dan pengembangan kapasitas di dalamnya. Bahkan beberapa dari kami berani dengan tegas menyebut perusahaan ini sebagai ladang jihad tuk menjemput syahid kami. Hingga mati telah datang waktunya, kami ingin itu terjadi saat kami dalam keadaan membela agama Allah di perusahaan ini.

Mungkin suatu hal yang sangat muluk dan jauh dari akal rasional masyarakat umum, tapi inilah jalan yang coba kami pilih dengan penuh kesadaran. Sebuah idealisme yang kami pelihara untuk tetap membara dalam gempuran pragmatisme dan materialisme saat ini. Kami toh juga tak menutup mata akan sunnatullah yang harus kami penuhi tuk bisa membesarkan perusahaan dakwah ini seperti aset, revenue, kesehatan financial, brand, jaringan, kualitas, profesionalitas, dan lain sebagainya itu harus dipenuhi sebagai salah satu pijakan-pijakan dalam melangkah. Kami sadar, akan berat dan sulitnya pendakian-pendakian yang akan ditempuh di depan, memulai perjalanan membangun perusahaan dengan bekal seadanya namun juga harus menjaga cita-cita kami untuk tetap dijadikan pedoman dan pegangan.

Kadang saya sering merenung, tentang semangat juang dan pengorbanan mereka yang ada di belakang Badr Interactive. Mulai dari malam-malam yang senantiasa diisi dengan sisa kerjaan, menolak berbagai tawaran kesempatan tuk lebih mapan, hingga kesabaran menghadapi berbagai keterbatasan dan ketidaknyamanan. Mereka yang mau berjuang di sini, sebenarnya adalah mereka yang berani bertaruh dengan simpanan yang besar, resiko yang besar, dan pengorbanan besar. Tapi kebesaran hati, kesabaran, dan keikhlasan mereka yang mampu mengimbangi itu semua. Mereka yang mau bersusah dan bersama berjuang, kan kujadikan saudara terdekat perjalanan kehidupan, dengan namanya yang senantiasa terucap dalam doa-doa tuk memohon kebersamaan kembali di dunia terlebih di surga-Nya.

Bukan untuk nama besar, kejayaan, atau sekedar jabatan, lebih dari itu kami meletakkan posisi diri dalam perusahaan ini. Saya sering berkaca, seiring dengan maju dan besarnya Badr Interactive, nama saya sering menjadi lambang kesuksesan dari institusi ini. Padahal saya secara penuh sadar dan mengakui, saya bukan apa-apa dalam perusahaan yang kami cintai ini, besarnya pengorbanan dan peluh yang sudah keluar dari kening semua orang di Badr Interactive-lah yang menjadi penyokong kemajuan Badr Interactive. Tentunya kehendak dari Allah jualah yang lebih utama menjadi sebab itu semua. Kami selalu ingin menciptakan sebuah lingkungan interaksi dimana kepercayaan penuh, kebesaran hati, dukungan, sokongan, serta perhatian total terhadap saudaranya yang kami ingin selalu kedepankan, bukan sikut menyikut dalam memperebutkan keutamaan materi. Badr Interactive bukan tentang siapa, tapi tentang visi yang kita bawa.

 

Saya juga menyadari penuh, Badr Interactive tidak bisa menjadi tempat perhentian terakhir kami semua yang ada di sini saat ini. Bila suatu saat nanti ada lahan dakwah yang jauh lebih memerlukan sebagian diantara kami untuk kami berpindah, itu bukanlah hal yang besar bagi kami, karena bagi kami kesamaan visi yang telah tertanam dalam hati kami, dimanapun kami berada kelak, yang akan tetap mempersatukan kami. Entah menjadi profesional, akademisi, rektor, hingga menteri, semua jalan yang akan bercabang nanti, semuanya harus bisa kami kembalikan dalam rahim visi dakwah yang kami pupuk saat ini.

 

Kami percaya seutuhnya korelasi yang benar-benar bisa dirasakan, bahwa maju mundurnya perusahaan ini bergantung sepenuhnya dari ada tidaknya pertolongan Allah. Dan mengalir atau tidaknya pertolongan Allah bergantung pada dekat tidaknya kami dengan-Nya. Saya menjadi saksi hidup seluruh perjalanan perusahaan ini bagaimana pertolongan Allah sangat dekat, selalu dalam setiap kondisi tersulit dan terdesak skenario Allah senantiasa begitu indah memeluk kami. Kadang saya sangat malu bila membandingkan antara kepantasan diri ini dengan selaksa pertolongan yang telah Allah berikan kepada kami. Dan saya secara penuh juga menyadari, bahwa maksiat-maksiat yang terukir dalam tiap aktivitas kami, bahkan di luar kantor sekalipun, akan berpengaruh dalam keberkahan dan kemudahan perjalanan kami. Seperti layaknya ladang, Badr Interactive adalah ladang jihad kami, yang kami jaga penuh dengan kedekatan kami terhadap Allah, kini dan semoga Allah mengijinkan hingga syahid menjemput.

 

Semoga kami bisa senantiasa istiqamah menjaga langkah-langkah ini. Menjemput ridha-Mu dengan pilihan jalan ini.

 

 

Melihat Mereka yang Bebannya Lebih Berat

June 16th, 2012

Suatu malam di sebuah busway. Penumpang tidak terlalu padat, kebanyakan berisi para pekerja atau karyawan kantor dengan wajah yang penat dan lelah. Bersandar, tertidur, sekedar memandangi jalan Jakarta yang mulai berdamai dengan malam, atau berbincang ringan dengan rekan seperjalanannya. Suasana busway sepi, hanya ada beberapa gumaman obrolan pelan khas orang dewasa terdengar. Masuk seorang ayah dan anaknya di sebuah halte, mereka duduk dan perjalanan berlanjut. Di sepanjang perjalanan sang anak mulai berceloteh riang dengan ayahnya, ramai sekali hingga suara-suara dalam busway tenggelam oleh kicau riang anak tersebut. Tak hanya celoteh, ia mulai berlari-lari bermain, kesana-kesini di dalam busway menikmati ruang cukup luang yang ada sambil tetap berceloteh riang.

Seorang bapak separuh baya, tampak dari penampilannya baru saja pulang kerja yang sedang beristirahat, sontak terganggu dengan suara anak tersebut. Tanpa perlu waktu lama ia segera berujar kepada bapak anak tersebut dengan suara cukup tinggi dari tempat duduknya ke arah tempat duduk bapak sang anak.

“ Pak, bisa didik anak ga sih? Saya sudah capek seharian kerja, berangkat pagi pulang malam dalam keadaan sangat lelah, di kantor saya banyak masalah, dan di sini ternyata saya masih juga mendapat masalah dari anak bapak, saya ingin istirahat, tapi anak bapak ini berisik sekali sehingga membuat saya tidak bisa istirahat, saya bisa stress kalau seperti ini” Ujar bapak separuh baya. Suasana bus mendadak sepi beberapa saat oleh suara tinggi sang bapak separuh baya.

Bapak sang anak hanya tersenyum, kemudian dengan lembut dia berujar.

“mohon maaf pak, mohon maaf untuk semua yang ada di sini, untuk sekali ini saja saya minta ijin kepada bapak dan semua yang ada di sini untuk membiarkan anak saya bermain. Ibunya baru saja meninggal hari ini. Dan saya kehabisan uang untuk sekedar naik taksi sehingga terpaksa naik busway. Jadi saya mohon biarkan anak ini menikmati keriangannya malam ini sebelum hari-hari beratnya esok.”

Sontak suasana busway tiba-tiba sepi tanpa suara medengar itu. Hanya ada celoteh seorang anak kecil berumur 3 tahun yang masih sangat riang bermain. Mata sang bapak separuh baya yang tadi merah padam langsung berkaca-kaca, ia menunduk, kemudian memanggil sang anak mengelus kepalanya dan mengajaknya bermain bersama.

Dalam kehidupan, kita sangat sering sekali, merasa dan yakin, bahwa ujian, beban, dan cobaan yang kita terima dalam hidup adalah ujian, beban, dan cobaan terberat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Kita mudah meraung, putus asa, mengeluh, dan marah oleh berbagai beban dalam hidup yang kita miliki dan lupa bersyukur. Padahal jika kita mau membuka mata sedikit, di sekitar kita saja, masih sangat banyak orang yang beban hidupnya jauh melebihi kita.

Sang bapak separuh baya dengan berbagai macam masalah di kantornya merasa bahwa hidupnya adalah yang paling berat sehingga merasa perlu mendapat pengertian dari orang-orang. Padahal beban yang dihadapi sang bocah 3 tahun di depannya beserta ayahnya jauh lebih berat darinya. Perasaan paling menderita dan terbebani, kadang bisa menjadi tabir tertutupnya mata kita untuk bisa melihat semuanya lebih dalam dan jernih.

Melihat disekitar kita, mencoba mengetahui dan merasa bahwa tidak hanya kita yang sedang berjuang menerjang ombak kehidupan, dan ternyata, masih banyak yang ombaknya jauh lebih besar dari kita akan membuat kita tersadar, kita hidup lebih banyak mengeluh dan sombong daripada bersyukur. Tidak ada yang bisa menjamin cobaan yang kita hadapi saat ini lebih besar daripada cobaan seorang anak 3 tahun. Ketika kita gagal dalam karir, kuliah, hubungan dengan kerabat, finansial, kesehatan, atau berbagai macam dinamika hidup, mari kita bayangkan mereka yang sudah sejak lama hidup bersama keterbatasan dan ujian hidup yang sangat luar biasa bahkan sejak mereka dilahirkan.

Membuka mata dan mencoba bersyukur terhadap apa yang kita miliki saat ini dengan melihat ke bawah, adalah salah satu cara menekan nafsu kita untuk cepat bertanya-tanya tentang beban yang dirasa, cepat merasa paling menderita dalam hidup, atau mencoba mendapat simpati. Bersabar tidak cepat putus asa menghadapi cobaan, beryukur terhadap satuan terkecil pemberian Allah pada kita, modal seorang Muslim untuk menerjang ombak kehidupan, besar kecilnya bukan persoalan, tapi bagaimana cara kita mengarungi ombak kehidupan tersebut dan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah. Simpati dan iba manusia atas beratnya beban atau cobaan yang menimpa kita bukanlah penyembuh, penyembuh adalah membuktikan dengan perbuatan, seberat apapun beban, kita bisa semakin setia dan dekat pada Allah.

Tetap tersenyum dalam beban dan cobaan, biarkan orang melihat kita sebagai hamba yang seolah dari rona wajah nya tidak pernah tergurat sedikitpun bekas-bekas frustasi atas beban-beban hidupnya.

Aku akan Menjadi Besar untuk Membawamu ke Tanah Suci Mama

June 12th, 2012
Tulisan ini saya persembahkan kepada ibu saya, wanita yang saya tidak tahu, dengan apa Allah mengisi hatinya sehingga saya merasakan cinta dan ketulusan di setiap gerak geriknya pada anaknya ini.


Mama, begitu saya memanggilnya, saat ini secara fisik sudah jauh berbeda saat saya masih duduk di bangku sekolah, atau bahkan saat satu tahun yang lalu. Stoke yang dialaminya sejak beberapa bulan lalu karena penyakit darah tinggi yang telah lama dideritanya membuat beberapa kemampuan motorik yang dimilikinya jauh berkurang. Saat ini Mama tidak bisa lagi berjalan dengan gagah, walaupun tanpa tongkat, tapi kemampuan berjalannya jauh berkurang dibandingkan dulu, kemampuan menggenggam dan meremas dengan tangan berkurang, dan suaranya tak setegas dulu. Tapi ternyata perubahan-perubahan itu sama sekali tak ada artinya jika dibanding dengan banyak hal yang tak berubah dan bahkan bertambah kuat saat ini: cinta dan ketulusan,,, dua hal yang tak perlu sinyal fisik tuk mengungkapkannya, yang terasa dalam komunikasi hati, antara dia dengan anaknya.


Cinta dan ketulusan, yang setiap kali saya menjejakkan kaki di rumah, selalu terasa dalam bahasa verbal dan nonverbalnya. Mama selalu menjadi orang yang membukakan pintu pertama saat saya pulang selarut apa saya pulang setelah tumpukan aktivitas di Depok, Ia seolah selalu punya sisa kekuatan tuk menyambut anaknya ini. Tidak pernah sekalipun ia tidak segera bergegas menuju dapur, membuat segelas teh hangat untuk anaknya ini, dengan jalan yang tergopoh dan terkadang ada beberapa bagian teh di dalam gelas yang tumpah karena tidak seimbangnya kemampuan menggenggam Mama, tapi ia selalu menolak saat saya mencegah atau bergerak sigap mencoba mengambil alih gelas dalam genggamannya. Mama selalu selesai meletakkannya di meja kamar saya, dan memperhatikan saya yang menyantap teh dengan campuran bahan dasar cinta itu.


Kadang kalau saya pulang dengan keadaan lusuh dan lapar, ia seakan tanpa perlu mengeluarkan sinyal apapun segera membuatkan tempe goreng asin kering, makanan favorit saya, di saat itu juga. Tak bisa dilarang dan dicegah, saya akhirnya hanya bisa menemaninya memasak di dapur sambil menahan haru akan keinginannya untuk bisa mengungkapkan rasa sayang kepada anaknya ini dengan berbagai macam hal yang bisa ia lakukan dan berikan pada anaknya. Dan ia tidak akan beranjak sebelum saya melahap karya ciptanya yang selalu saja tidak pernah tidak enak di lidah ini.


Untuk membuat Mama mengeluarkan gurat senyumnya, ia tak pernah meminta apapun, gurat senyumnya selalu terukir hanya dengan keluangan waktu anaknya mendengarkan berbagai ceritanya, atau saat ia mendengarkan kisah perjalanan anaknya di Depok, atau mendengarkan berbagai mimpi dan rencana anaknya, yang saya yakin Mama tidak paham sepenuhnya dengan mimpi-mimpi saya, tapi ia tak pernah menunjukkan ekspresi lain kecuali, senyum dukungan yang seoalah senantiasa menciptakan sejuta energi bagi saya.


Cinta dan ketulusan, yang entah dari mana tidak pernah habis keluar dan memenuhi ruang hatinya. Allah tempatkanlah Ia di tempat yang utama di sisi-Mu dengan ridha dari-Mu.


Cerita berlanjut, hingga di suatu malam saya teringat, salah satu mimpi terbesar saya, bisa mengajak Mama pergi ke tanah suci bersama. Hingga saat ini saat saya mengatakan tentang mimpi saya ini kepadanya, ia hanya tersenyum dan berkata dengan nada datar “aamiin..”. Saya langsung bisa menangkap bahwa Mama pasti merasa kondisi fisiknya saat ini akan membuatnya sangat kesulitan ketika harus melaksanakan berbagai ritual ibadah dalam umrah / haji.  Saat itu juga tertanam keinginan kuat dalam hati saya, “kita suatu saat akan bisa ke tanah suci bersama Ma, saat Mama bisa melihat secara langsung ka’bah, dan Mama akan bisa melakukannya biarpun harus berada di atas gendongan anaknya ini.”


Bertambahlah satu mimpi saya, membawa Mama dalam gendongan saya di tanah suci nanti. Bila saat ini berat badan saya hanya lebih berat 15 kg dari ibu saya, untuk membuat Mama nyaman dan tidak melihat ekspresi menahan lelah dari anaknya ini, maka harus ada peningkatan berat badan segera. Yak, aku akan menjadi besar untuk membawamu ke tanah suci Mama, saatnya bersemangat makan dan olah raga banyak, setidaknya kalau target ini tidak tercapai, saya akan menjadi pendamping setia Mama di kursi rodanya :)

Lelahmu adalah Jalan Juangmu

February 10th, 2012

Selama satu setengah minggu kemarin, saya sering mengalami penurunan dalam performa dan kinerja, hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi saya yang selama 3 hari dalam 1 minggu harus bolak balik lokasi kerja baru di Cempaka Mas,   sangat menguras energi karena jauh jaraknya.

Ketika pulang ke kontrakan, sudah lelah dan akhirnya langsung terlelap sehingga ga sempat melakukan banyak aktivitas lainnya. Keesokannya sudah harus bangun jam 3 karena bada subuh sudah harus berangkat sehingga aktivitas ibadah bada subuh bisa di-shift ke waktu sebelum subuh,,,

Akhirnya sampai pada suatu kondisi bahwa tidak boleh begini terus, terlalu banyak target tinggi yang harus terkejar dalam sisa tengah tahun ini, terlalu banyak, dan itu hanya bisa tercapai dengan kerja keras. Saatnya bangkit dan kembali bergerak, berlari dan berlari lebih cepat,,

bila tiap lenguhan nafas lelahmu ketika matahari pamit pergi adalah pengampunan dosa yang tak bisa terhapus oleh shalat, puasa, dan umrah,,
apakah kau masih menginginkan lenguhan itu cepat pergi, menghilang dalam hidupmu, dan esok agar tak menyapa lagi,,

bila lepuh tangan karena ikhlas niatmu mencari keutamaan dari Allah dalam tiap ayunan cangkul di tanah garapanmu adalah sebab diharamkannya api neraka atasnya,
masihkah kau ingin tangan itu dimanja di atas pualan bantal dan tak lagi bersentuhan dengan terik dan panas matahari,,

bila semangat dan giat dalam langkahmu adalah jalan turunnya cinta dari Allah, hingga Ia ridha memberikan surga-Nya padamu,,
mungkinkah kau membiarkan tubuhmu terlalu lama terdiam dan bersandar,,

Renungkanlah, apakah mimpi dalam kerjamu adalah mimpi berbungkus niatan menjadi sosok pemberi manfaat untuk ummat atau bukan,
karena bila itu mimpimu, bangkit dan kembali bergerak menerjang lelah dlm dzikir pada-Nya adalah rute perjalanannya

Untuk semua yang saat ini mengemban kerja berat dan ketika lelah sudah menjadi sahabat setia sehari-hari, jangan pernah menyerah, Allah ada dalam tiap langkah kerjamu,,

Takkan Patah oleh Tekanan Berat

January 8th, 2012

Bila boleh menduga, sejak masuk bangku kuliah sepertinya saya sudah ditakdirkan Allah untuk selalu memiliki dan melaksanakan Tekanan berat, yang kapasitas serta ukuran senantiasa bertambah seiring dengan bertambahnya waktu.

Menanggung Tekanan berat memiliki banyak sekali hikmah yang ada di dalamnya, dan juga banyak resiko yang menyertainya. Tapi semua tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada tulisan kali ini saya akan share beberapa Tekanan (yang bisa saya share) yang saya miliki saat ini.

Dari tulisan beberapa hari yang lalu dapat diketahui saya baru mengemban amanah sebagai CEO dari Badr Interactive, sebuah start up di bidang mobile application yang baru berdiri. Terhitung sejak tanggal 6 Januari yang lalu saya sudah bekerja full time di kantor Badr Interactive. Berarti sejak jam 9 hingga jam 6 sore di hari-hari yang saya miliki akan dialokasikan penuh untuk Badr Interactive, terlebih posisi CEO yang memiliki tanggung jawab untuk membawa kapal ini maju dari hari ke hari.

Selain itu saya juga sedang mengenyam pendidikan di sebuah sekolah bagi para calon CEO start up yang bergerak di bidang teknologi bernama Founder Institute. Belakangan ini tugas-tugasnya sangat berat. Tugas yang terakhir mengharuskan saya meresmikan ide produk saya menjadi sebuah perusahaan legal berbentuk Perseroan Terbatas (PT) sebelum tanggal 11 Januari 2012. Bila dibayangkan dengan sisa 3 hari saya harus mengurus akta perusahaan, sedangkan seperti yang kita tahu bahwa biaya dan prosedur melegalkan PT bukanlah hal yang mudah walaupun bisa dilakukan dengan cepat.

Ada lagi tantangan di MWA UI dan BK MWA UI UM, saat dimana saya harus menyelesaikan amanah ini dengan baik. Masih ada penyelesaian polemik UI dengan tim transisinya. Di BK sendiri masih ada beberapa proker yang masih harus diselesaikan karena sudah menjadi kewajiban kami untuk menjalankannya.

Kemudian satu lagi tantangan Tekanan berat yang saya kira sudah selesai ternyata belum selesai, yaitu adalah Tugas Akhir. Saya kira saya sudah selesai dengan urusan ini sejak mengumpulkan laporannya tanggal 4 Januari, tetapi ternyata pembimbing saya meminta saya merevisi laporan saya karena masalah kekuatan teori yang saya pakai lemah. Pilihannya ada dua mencari landasan teori yang lebih kuat dengan penelusuran literatur yang mendalam atau mengulang penelitian. Kalau dihitung-hitung ini seperti mengerjakan kembali TA sebanyak 1/3 bagian perjalanan.

Dan beberapa amanah dan rutinitas lain yang juga tidak kalah menantangnya seperti menambah hafalan atau mengisi kelompok binaan.

Tekanan yang berat bagi saya bisa membuat diri ini berkembang jauh lebih cepat. Membuat setiap waktu lebih terasa nilainya sehingga meminimalisir penyia-nyiaan terhadapnya. Tekanan yang berat senantiasa bisa membuat diri ini menyadari bahwa tanpa pertolongan Allah niscaya semua tekanan ini tidak akan bisa terselesaikan sehingga setiap ada kemudahan yang menyertai pengerjaan tekanan tersebut akan sangat terasa karena selalu datang ibarat angin sejuk yang mengguyur tubuh setelah basah oleh keringat. Tekanan yang berat selalu bisa membuat diri ini merasa lemah, sehingga setiap ada momen berdekatan dan berduaan dengan Yang Maha Kuasa akan selalu ingin dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Saya juga percaya tidak ada tekanan yang bisa mematikan kita karena setiap tekanan selalu datang dengan kadar pengembannya masing-masing. Keputusasaan dan keinginan menyerah merupakan sebuah hasil yang datang karena kita memandang rendah kapasitas diri kita.

Saat pikiran negatif dan rasa ingin menyerah mulai menyeruak, saya selalu menanamkan dua hal sederhana dalam pikiran cepat-cepat: berprasangka baik pada Allah dan keyakinan bahwa setiap kerja keras akan berbuah hasil. Prasangka baik pada Allah yang menyebabkan kita senantiasa yakin setiap tekanan merupakan sarana pendewasaan diri kita, sedangkan keyakinan akan kerja keras yang meneguhkan kita untuk senantiasa bergerak dan bekerja menyambut setiap tantangan yang datang satu demi satu.

Bila dipikirkan dengan akal rasional akan sangat sulit diterima semua tantangan itu, karena mulai untuk membayangkannya pun akan membuat mual. Satu-satunya cara adalah dengan menjalaninya, berikhtiar, dan senantiasa menyerahkan segalanya pada Allah.

Bila kegagalan merupakan ketetapan dari Allah atas hasil dari tantangan ini, niscaya kegagalan itu akan jadi bibit pendewasaan dan repositori pelajaran bagi kita. Bila keberhasilan yang merupakan buah dari tekanan tersebut, maka keberhasilan itu merupakan kemurahan dan akibat dari pertolongan Allah pada diri kita yang penuh salah dan khilaf ini.

Yap yap,,, aku disini sedang berusaha tingkatkan kapasitas diri, sibukkan diri dengan aktivitas, dan berdoa meminta yang terbaik; kuyakin begitu juga dirimu, Semoga Allah senantiasa menjaga kita..

Hari Pertama Menjadi CEO

January 6th, 2012

Sejak Musyawarah Besar Badr Interactive pada tanggal 24 Desember 2011, ditetapkan saya akan memegang amanah sebagai CEO dari Badr Interactive menggantikan saudara saya Mohamad Sani. Namun saya baru beroperasi secara penuh sejak kemarin, 6 Januari 2012 karena saya masih diberi kesempatan untuk bisa menyelesaikan TA saya. Menjadi CEO bukanlah sebuah kebanggaan atas posisi yang bisa pamerkan, terlebih untuk sebuah perusahaan yang juga menjadi wajihah dakwah ini. Menjadi CEO adalah sebuah tanggung jawab besar, karena ia yang akan menjadi nahkoda kapal ini, ia yang akan senantiasa harus bisa melihat apakah kapal tetap berada pada alur yang benar, bagaimana kondisi para awaknya, sebuah posisi dimana ia harus mengorban tenaga dan pikiran lebih, sebuah tugas ketika ia dituntut untuk bisa menjadi teladan bagi seluruh anggota tim yang ia pimpin.

Posisi CEO ini merupakan posisi yang sangat berat dan besar pertanggungjawabannya untuk sebuah start up yang sedang berkembang saat ini. Badr Interactive saat ini  memiliki 10 orang anggota tim, dengan 5 orang full timer dan 5 oran part timer. Ada satu orang anggota tim kami yang sudah berkeluarga dan satu orang lagi yang akan berkeluarga dalam waktu dekat ini. Semuanya menggantungkan diri dari Badr Interactive. Badr Interactive walaupun dalam 6 bulan sejak berdirinya telah mencapai beberapa target yang ditetapkan, tapi tetap saja ia berjalan dengan banyak ancaman dan rsiko yang harus ditanggung terlebih sebagai sebuah start up IT yang biasanya memiliki peluang gagal lebih tinggi dibandingkan ranah bisnis lainnya. Ia harus segera berlari dan melakukan kemajuan dalam proses bisnisnya supaya bisa terus berjalan. Dan semua itu adalah tanggung jawab CEO. Bila dulu saya melihat jabatan publik di kampus sebagai sebuah sarana melatih diri dan juga hal yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, posisi CEO saat ini, amanah itu menuntut tanggung jawab dan juga dampak yang lebih nyata dan terlihat bahkan untuk jangka pendek, terlebih untuk jangka panjang di akhirat kelak. Bila ia gagal memimpin, maka kerugian yang dialami buka hanya kepada gagalnya tujuan dari sebuah organisasi, tapi juga kerugian bagi orang-orang yang dipimpinnya, bagi keluarga yang ditanggungnya, atau bagi masa depannya. Posisi ini membuat diri ini perlu meningkatkan kapasitas kepemimpinannya lebih tinggi lagi. Melihat semuanya jauh ke depan, tidak hanya untuk untung rugi diri sendiri, tapi juga sebuah perusahaan secara keseluruhan.

Tapi karena visi dari Badr Interactive memang merupakan mimpi saya, sehingga semua ini akan saya jalani dengan sepenuh hati. Saya tidak akan tanggung-tanggung dan setengah-setengah. Pengorbanan dan perjuangan lebih merupakan sebuah konsekuensi yang harus saya terima dan dengan senang hati akan ringan untuk diberikan. Tapi satu hal lagi yang akan terus dan harus dijaga, yaitu keberkahan dan ridha dari Allah. Saya merasakan sendiri, semakin berat dan besar beban yang harus kita tanggung, maka semakin besar juga kebutuhan kita kepada pertolongan Allah. Sedangkan untuk menjaga peluang agar Allah selalu memberikan pertolongannya pada setiap hal yang kita lakukan adalah dengan menjadi hamba-Nya yang senantiasa dicintai oleh-Nya. Dan disitulah saya akan juga banyak berusaha, mencoba menjadi hamba yang dicintai oleh Allah dengan segala ibadah dan keuatamaan perbuatan yang bisa mendapatkan cinta dan ridha Allah.

Ke depannya, tiap detik akan jauh lebih bermakna dan berarti. Saat dimana saya menyadari bahwa saat waktu-waktu ini tidak dimanfaatkan untuk melakukan hal yang bermanfaat atau hal yang bisa menjadi penyebab turunnya cinta Allah, maka ketenangan diri ini atas keberhasilan dalam memegang amanah ini akan menjadi taruhannya. InsyaAllah saya siap dan akan selalu belajar, mengembangkan diri, mewujudkan mimpi kami,, menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat untuk ummat, bangsa, dan agama. Allah bersamai terus langkah-langkah kecil ini, saat tertatih, maupun saat berlari,, karena melangkah dalam kebersamaan-Mu merupakan sumber kekuatan terbesar bagi kami…

Memulai Hari-hari Penuh Tantangan Bersama Founder Institute

October 31st, 2011

Tanggal 26 Oktober kemarin menjadi sebuah hari yang cukup berkesan bagi saya, tanggal itu adalah saat kuliah pertama Founder Institute berlangsung. Founder Institute adalah sebuah program yang diprakarsai oleh seorang CEO perusahaan bernama The Funded, Adeo Ressi, yang bertujuan untuk membantu para pengusaha yang ingin membangun “meaningful” dan “endure” perusahaan teknologi. Program ini sangat menekankan pada kualitas peserta, kualitas mentor, kualitas materi, dan keberlanjutan usaha. Semuanya dipadukan dalam bentuk program yang ketat dan serius.

Program ini memang tidak main-main, dengan selektivitas yang ketat (hany 10% dari pendaftar yang bisa masuk dengan biaya pendaftaran USD 25). Orang-orang yang telah diterimapun tidak bisa tenang dan bersantai karena tingkat drop out atau dikeluarkan dari program ini sangat tinggi (rata-rata 60% peserta di-DO di 30 kota besar di seluruh dunia). Dalam satu minggu rata-rata ada 1 pertemuan di kelas untuk penyampaian materi dan penyampaian ide usaha dari peserta, sedangkan tiap minggu ada 2 pertemuan working group (kelompok 4-5 orang peserta). Adeo Ressi mengatakan di awal perkenalan bahwa hanya orang-orang yang memiliki ide yang baik, kerja keras, dan leadership yang bisa tetap survive dalam program ini. Biaya yang dikeluarkan untuk bisa bergabung dengan program selama 4 bulan ini juga tidak sedikit, tiap peserta harus membayar biaya sebesar USD 500 untuk bisa mengikuti program ini. Tapi ini tidak sebanding dengan banyak manfaat yang bisa didapatkan, mulai dari ilmu luar biasa yang bisa kita dapat, jaringan dengan CEO-CEO sukses dunia, dan pendanaan dari investor atas ide kita.

Keikutsertaan saya pada program yang sangat prestisius ini sebenarnya diawali dari sebuah usaha coba-coba. Berawal dari keinginan yang sangat besar dari saudara saya sekaligus rekan kerja di perusahaan saya, Sani, untuk bisa masuk ke dalam program ini membuat program ini menjadi salah program penggodokan SDM perusahaan kami. Akhirnya kebijakan perusahaan memutuskan agar saya dan sani mendaftar dan ikut tes Founder Institute dan akan membiayai satu orang yang lolos dan bisa mengikuti program ini. Tadinya saya kira saya tidak akan lulus karena mendaftar di hari terakhir, ditambah dengan baru ikut tes empat hari setelah batas waktu maksimal ikut tes online telah lewat. Tapi Allah berencana lain, saya dan Sani ternyata lolos dan diterima sebagai peserta program Founder Institute. Nah akhirnya harus diadakan lagi rapat dewan direksi Badr Interactive (nama perusahaan kami) untuk menentukan siapa yang akan dimajukan sebagai perwakilan untuk bisa ikut program sampai selesai. Dengan pertimbangan proyeksi posisi ke depan dan slot kesibukan saat ini akhirnya saya yang diputuskan mengikuti program ini.  Wah tentunya ini merupakan keputusan yang cukup berat, terutama bagi saudara saya Sani yang sangat menginginkan program ini, tapi saya sangat kagum dengan kelapangan dan penerimaan Sani pada keputusan ini.

Akhirnya berlanjutlah pada hari-hari pertama saya mengikuti program Founder Institute, ternyata benar, program ini adalah program yang sangat serius, baru 5 hari mengikuti program ini saja sudah 8 orang yang di-DO. Tapi saya adalah seorang yang sangat senang mendapat tantangan dan tekanan, keadaan seperti ini justru merupakan lingkungan yang paling optimal untuk menjadi booster potensi diri saya. Selama empat bulan ke depan saya akan menikmati semua kegiatan dan aktivitas di Founder ini, terlebih kesempatan untuk belajar dan membangun jaringan dengan CEO-CEO perusahaan teknologi terkemuka di dunia dan calon-calon CEO perusahaan teknologi baru Indonesia. Ini merupakan satu langkah maju menuju milestone cita-cita saya, menjadi pengusaha terkemuka yang bergerak di bidang teknologi di Indonesia. Ayo semangat selalu, man jadda wajada! J

senjaya.net

Jay's Life Journal

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers