comment 1

Pembelajaran untuk Founder Startup dari VP Google

Semua founder startup tahu dan sadar bahwa perjalanan mereka bukanlah perjalanan mudah. Siapa yang berespektasi perjalanannya akan mudah sepertinya harus siap terkaget-kaget ketika menemukan banyak ketidakidealan antara rencana atau impian dengan kenyataan yang silih berganti menghampirinya.

Salah satu ketidakidealan yang biasa ditemukan oleh para founder startup adalah perjalanan mereka tidak melulu bisa 100% sesuai dengan teori di buku-buku bisnis atau sesederhana perkataan para orang-orang bijak, pun juga termasuk para pengusaha yang sudah sukses terlebih dahulu. Terlalu banyak variabel yang tak bisa dikontrol, ditambah keunikan dan kekhasan variabel tersebut yang nampaknya agak sulit disederhanakan dan digenelarisir.

Dalam kesempatan sharing singkatnya di Google Launchpad kemarin, VP Photo and Streams Google (bagian yang handle Google Photo, Blogger, Google+, Google News, dll) , Bradley Horowitz, menceritakan beberapa pembelajaran untuk founder startup dari pengalamannya selama ini tentang beragam kondisi dan bahkan kontradiksi dalam kehidupan seorang founder startup.

Presentasi Bradley
Presentasi Bradley
Optimalisasi Privilege dan juga Pejuang Perubahan

Tidak dapat dipungkiri dalam fenomena hidup kita, kesempatan banyak datang bagi mereka yang punya privilege, atau saya lebih suka menyebutnya karunia dari Allah. Dan karunia tentunya bukan hanya dari kaca mata dunia saja seperti memiliki keluarga yang relatif mapan, pendidikan yang berkualitas bahkan hingga yang terbaik di dunia, atau punya ketahanan finansial pribadi yang baik saja. Memang tidak bisa dipungkiri cukup banyak startup yang bisa besar karena punya beragam hal tersebut di diri foundernya, tapi itu saja tidak cukup.

Karunia juga bisa berbentuk hal yang lainnya seperti kesehatan, keluarga, sahabat yang bisa mengingatkan dalam kebaikan, dan beragam karunia lainnya yang mungkin sering luput kita sadari. Tentu saja hal ini juga berpengaruh pada kesuksan seorang founder startup, dan sekali lagi itu saja juga tidak cukup.

Di sisi yang lain seorang founder juga harus punya daya juang untuk mendobrak kondisinya saat ini, menjadikan dirinya lebih baik. Ia punya semangat untuk merubah keadaan, ia tidak percaya bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dirubah dengan perjuangannya, tentunya dengan ijin Allah. Daya juang inilah yang mendatangkan kesempatan dan peluang baginya. Seperti yang Allah katakan dalam Al Quran “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar Ra’d ayat 11).

Dengan semangat ini seorang dengan privilege tidak banyak sekalipun, bisa punya semangat juang tinggi sehingga dengan ijin Allah ia bisa membawa keberhasilan untuk apa yang dikerjakannya. Dan saya melihat sendiri banyak pebisnis sukses yang bisa besar karena punya semangat juang tinggi biarpun awalnya ia tidak punya banyak privilege atau bahkan tidak ada sama sekali dari kaca mata dunia.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat bersama, dalam setiap karunia itu ada ujian, begitu juga dalam tiap ujian ada karunia. Kita tidak bisa memandang hanya satu sisi bahwa karunia selalu tentang hal yang positif, memudahkan, membahagiakan, karena sebenarnya dibaliknya ada banyak ujian yang harus kita hadapi.

Seperti kisah-kisah nabi-nabi Allah yang menjadi pelajaran bagi kita, karunia Allah terhadap Yusuf as dengan kesempurnaan fisiknya atau Sulaiman as dengan kekuasaannya, jangan hanya kita pandang sebagai sebuah kenikmatan dunia saja, tapi kita harus pandang ada ujian Allah bagi mereka berdua.

Source : http://www.ifeanyikorie.com/
Spesialis dan Juga Generalis

Hal menarik bagi saya berikutnya yang Bradley sampaikan adalah tentang bagaimana seorang founder startup harus mampu untuk menjadi seorang spesialis dan juga generalis di waktu bersamaan. Bingung kan? 😀

Seorang spesialis, karena kita dituntut untuk menjadi sangat expert di area tempat kita berada, sehingga hal itu akan menjadi competitive advantage bagi kita. Ia mencotohkan spesialisasinya dalam komputasi visual recognitiion dan machine learning yang menjadi bekal baginya menjadi CTO startup pertamanya, Virage, membesarkannya hingga akhirnya IPO dan selanjutnya diakusisi oleh Autonomy. Spesialisasinya dalam hal technical sangat bermanfaat baginya membangun produk dengan kualitas tinggi.

Namun di saat yang sama seorang founder startup juga harus serba bisa di berbagai tanggung jawab dan pekerjaan di startupnya. Jangan terlalu kaku untuk hanya mau mengerjakan apa yang ia ahli di sana. Startup terlebih di fase awal adalah organisasi yang penuh keterbatasan resource, sehingga merupakan sebuah keniscayaan seorang founder yang harusnya handle produk, tapi juga harus menangani PR, juga customer service, juga operasional, dan lainnya dalam satu waktu.

Ia menceritakan kemampuan founder untuk bisa, mau mengerti/belajar dan mengerjakan beragam hal diluar spesialisasi inilah salah satu yang menyebabkan Sergey dan Larry bisa membawa Google sukses. Bradley menceritakan hingga menjelang IPO kedua founder Google tersebut masih saja menangani beragam hal yang sebenarnya bukan merupakan spesialisasinya, mereka mengeksplorasi mekanisme dan cara IPO yang berbeda dengan google misalnya.

Seorang founder yang mampu memiliki dua hal ini secara bersamaan akan memudahkannya menghadapi beragam kejutan, ketidakpastian, dan tekanan tinggi dalam perjalanan bisnisnya.

 

Pelari Sprint dan Juga Marathon

Banyak orang yang bilang, perjalanan membangun bisnis startup bukanlah lari sprint, tapi marathon. Ternyata Bradley punya pandangan yang menarik tentang hal ini. Perjalanan mendirikan startup juga merupakan lari sprint alih-alih hanya lari marathon.

Pernah merasakan kondisi dimana kita harus berlari sengat cepat dalam jangka waktu sangat singkat untuk mengejar target yang sangat tinggi?, di saat itulah lari sprint sedang berlangsung.

Seorang founder tidak bisa berharap seluruh rute lari akan ditempuh dengan cara pelari marathon berlari. Ritme yang teratur, terukur, stabil dengan pengaturan stamina yang baik untuk menyelesaikan rute yang panjang. Selalu ada saat dimana kita mengatur mode lari sprint.

Kemampuan berlari sprint dalam membangun sebuah startup membutuhkan ketahanan yang super kuat dalam tekanan tinggi dan kondisi yang tidam nyaman.

Bradley sendiri menceritakan ia punya kemampuan berlari sprint adalah bekal dari pengalaman masa lalu bersama ayahnya. Setiap liburan musim panas Bradley harus membantu ayahnya di toko bunga ayahnya, selama 100 hari penuh secara konsisten ia haru bangun jam 4 pagi, pergi ke supplier bunga, kembali lagi kemudian mempersiapkan toko dan stok jualan, dan berada di sana mnjaga toko ayahnya hingga jam 9 malam.

Toko Bunga ayahnya Bradley Horowitz, salah satu VP Google
Toko Bunga ayahnya Bradley Horowitz, salah satu VP Google

 

Hal itu bukanlah hal yang mudah, di usianya yang masih muda dan duduk di bangku sekolah setingkat SMA saat itu, teman-teman sebaya nya pasti sedang menikmati liburan bersama teman-teman lainnya.

Tapi justru pengalaman itulah yang membentuknya. Ia mengakui dengan pengalaman 100 hari berjualan bunga itulah yang membuatnya mampu sprint mengerjakan hal seberat apapun dengan intensitas tekanan tinggi selagi masih sepanjang 100 hari. Mampu mengerjakan sesuatu yang sulit, mengejar target sangat berat, ataupun menjalani tantangan besar memang tidak enak, terlebih kita juga harus mengorbankan saat bersantai di rumah dan mungkin kehidupan sosial. Tapi itulah sprint.

Selain sprint, seorang founder jga harus mampu melalui rute marathon yang panjang. Diceritakan juga oleh Bradley, salah satu portfolio investasi terbaiknya yang bernama Slack.

Slack adalah perjalanan panjang, yang tak terduga. Didirikan oleh Steward Butterfield, ia dan timnya membuat game bernama Glitch. Dikerjakan selama lebih dari 3 tahun belum juga selesai dan membuat dana investasi yang mereka miliki semakin menipis. Tapi Glitch dikerjakan oleh mereka yang tergabung dalam tim yang tersebar di beragam penjuru dunia, dan untuk melakukan komunikasi dan koordinasi yang baik mereka membuat sistem komunikasi mereka sendiri. Dari sinilah muncul cikal bakal Slack, yang dalam waktu sangat singkat sejak launching di 2013 telah memiliki 4 juta daily active users.

growth user slack
Growth user slack

Perjalanan 3 tahun Butterfield dan timnya bukanlah hal yang singkat, di sinilah kemampuan bertahan dalam jangka waktu yang panjang diperlukan, kemampuan nafas panjang seorang pelari marathon.

Berdiri di dua kutub seperti beberapa kondisi di atas adalah hal yang memang tidak selalu muncul dalam kehidupan seorang founder startup, tapi bersiaplah situasi tersebut akan menghampiri kita. Happy enjoying your founders’ life 😀

1 Comment so far

  1. Slack merupakan studi kasus yang menarik. Mirip dengan studi kasus Basecamp, sebuah perangkat lunak project management berbasis web. Keduanya berawal dari sebuah perangkat lunak yang dibuat dan digunakan oleh tim perusahaan itu sendiri. Singkat cerita, perangkat lunak tersebut dijadikan sebagai produk yang dijual ke khalayak luas.

    Dengan adanya keterkaitan antara perusahaan dengan perangkat lunak yang dijual tersebut, mengakibatkan iterasi produk yang hendak diterapkan bisa lebih tepat. Bisa dibayangkan jika perangkat lunak yang dijual juga merupakan alat yang digunakan dalam aktivitas operasional. Kurang lebihnya perangkat lunak tersebut dapat dirasakan sendiri oleh karyawan, bukan berdasarkan survei pasar.

    Mungkin Basecamp tidak memiliki nama besar seperti Slack. Namun ia sudah termasuk dalam kategori bisnis yang berkelanjutan (established business). Saya sendiri penasaran kira-kira adakah produk lainnya yang memiliki cikal bakal yang sama?

Leave a Reply